27 October 2011

RAKUTTA SEMBIRING BRAHMANA (1914-1964) -- bagian 3


Kehidupan Berumahtangga Rakutta Sembiring Brahmana 

Setelah berhenti dari Taman Siswa, Rakutta Sembiring Brahmana pulang kekampung halamannya di Desa Limang. Rakutta Sembiring Brahmana kemudian disarankan oleh ayahnya untuk segera berumah tangga, dan karena itu adalah permintaan ayahnya, Rakutta Sembiring Brahmana tak kuasa menolak sehingga ia meluluskan permintaan dari orangtua yang sangat dikasihinya itu.

Seperti pada umumnya masyarakat Karo, biasanya seorang laki-laki disarankan oleh orangtuauntuk menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya yang lajim disebut impal. Perkawinan dengan impal menurut pola kekerabatan masyarakat Karo merupakan perkawinan yang ideal. Perkawinan ini diharapkan dapat menjaga agar tali kekerabatan tetap terjalin terus-menerus. Rakutta Sembiring Brahmana kemudian disuruh untuk memilih salah satu dari puteri pamannya (mama) untuk dijadikan pendamping hidupnya. Rakutta Sembiring Brahmana memantapkan pilihanya kepada salah seorang anak perempuan pamannya bernama Ngamini br Sebayang. Rakutta Sembiring Brahmana akhirnya menikahi impalnya.

Pernikahan Rakutta Sembiring Brahmana dengan impalnya Ngamini br Sebayang dilaksanakan di Desa Perbesi. Pernikahan ini dilaksanakan di Desa Perbesi karena desa tersebut merupakan desa tempat isterinya berasal. Pernikahan Rakutta Sembiring Brahmana dengan Ngamini br Sebayang dilakukan dengan acara adat Karo. Pada hari yang telah ditentukan dilaksanakanlah pesta perkawinan Rakutta Sembiring Brahmana dengan Ngamini br Sebayang. Hari itu semua sangkep nggeluh dari kedua belah pihak hadir untuk memuliakan pesta perkawinan itu.

Apabila pesta diadakan sintua (agung), yakini dengan memotong kerbau dan erkata gendang, dan kalimbubu membawa oseanak berunya (sukut). Pertama-tama kalimbubu si ngalo ulu emas akan memasangkan ose penggantin laki-laki dan si nereh memasangkan ose pengantin perempuan. Selanjutnya semua sukut iosei oleh kalimbubu si ngalo ulu emas janah simaba ose- nya masing-masing. Selesai rose acara pun dimulai. (18) Dalam pelaksanaan pesta perkawinan adat ini dipotong beberapa kerbau milik orangtuanya, selain karena ayahnya mempunyai kerbau yang cukup banyak, juga karena yang menikah adalah putera sulung. Seharusnya dilakukan demikian sesuai dengan adat istiadat perkawinan di tengah-tengah masyarakat Karo.

Setelah menikah Rakutta Sembiring Brahmana beserta isterinya menetap di Desa Limang. Meski Rakutta Sembiring Brahmana telah menikah, beliau tidak pernah meninggalkan kesibukannya di dunia politik, beliau justru lebih gencar melakukan kegiatan politik setelah ia menikah. Rakutta kerap kali meninggalkan isterinya sendirian dan pergi ke desa-desa yang ada di Tanah Karo untuk menyampaikan pidato-pidatonya. Rakutta Sembiring Brahmana sering tidak pulang ke rumah hingga berhari-hari bahkan sampai satu minggu. Hal-hal seperti ini tidak membuat isterinya marah karena ia sangat mengerti dan mendukung kegiatan suaminya itu.


Rakutta Sembiring Brahmana sering mengajak teman-teman seperjuangannya untuk berkumpul dan makan bersama di rumahnya. Rakutta Sembiring Brahmana sangat senang menjamu teman-temannya, dan alangkah malunya dia apabila ada tamu yang datang ke rumahnya pulang belum makan. Ada beberapa nama teman sepergerakan Rakutta Sembiring Brahmana yang berhasil didapatkan oleh penulis antara lain: Munaf Munir, Jakob Siregar, Keras Surbakti, Rim Perangin-angin dan Selamet Ginting. (19)

Rakutta Sembiring Brahmana dan teman-teman sepergerakanya tidak hanya berkumpul di Desa Limang. Mereka mempunyai beberapa tempat perkumpulan dan biasanya tempatnya berpindah-pindah setiap saat. Adapun tempat-tempat yang sering dijadikan mereka sebagai tempat pertemuan antara lain: TigaNderket, Tiga Binanga dan Kota Cane. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan jejak mereka dari Belanda karena pada waktu itu bagi orang-orang yang dianggap membangkang dan melawan terhadap Belanda pasti ditangkap. Meskipun nyawanya terancam apabila sewaktu-waktu Belanda mengetahui keterlibatan dirinya dalam pergerakan, Rakutta Sembiring Brahmana tidak pernah takut. Salah satu alasannya adalah ayahanda Rakutta Sembiring Brahmana mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan controller (pengawas) (20) Belanda dan para Sibayak.

Rakutta Sembiring Brahmana dikenal sebagai seseorang yang sangat senang dengan makanan. Beliau mempunyai makanan favorit yaitu jengkol. Makanan favoritnya ini selalu dibawa kemana saja dia pergi, bahkan ketika beliau sudah menjadi seorang pemimpin pun jengkol ini tetap menjadi menu andalan beliau. Jengkol tersebut bahkan sampai diselipkannya dikantong jasnya. Di samping jengkol beliau sangat menyenangi sayur-sayuran terutama yang direbus. Sayuran favorit beliau adalah daun pepaya.

Dari pernikahan Rakutta Sembiring Brahmana dengan isterinya Ngamini brSebayang, beliau dikaruniai enam orang anak yang terdiri dari tiga orang putera dan tiga orang puteri. Adapun nama anak-anak Rakutta Sembiring Brahmana dan Ngamini br Sebayang adalah :

1. Brahmaputera Sembiring Brahmana
2. Netapken Sembiring Brahmana
3. Mulih Hitdjrah Sembiring Brahmana
4. Padjariah br Sembiring Brahmana
5. Asahanifah br Sembiring Brahmana
6. Patih Muka br Sembiring Brahmana

Nama anak-anak Rakutta Sembiring Brahmana pada umumnya dipengaruhi oleh nama-nama yang berbau Islam. Hal ini tidak terlepas dari masa lalu Rakutta Sembiring Brahmana yang pernah tinggal bersama keluarga haji. Selama di Desa Limang isteri Rakutta Sembiring Brahmana hidup dari bertani. Beliau harus mendidik anak-anak mereka sendirian karena suaminya sering sekali berpergian untuk kegiatan politik. Pernah suatu ketika pada masa pendudukan Jepang di Tanaha Karo, Rakutta Sembiring Brahmana diminta oleh ayahnya untuk meninggalkan kegiatan politiknya. Hal ini dimaksudkan oleh ayahnya untuk menjaga keselamatan putera sulungnya ini. Pada masa pendudukan Jepang pergerakan tidak dapat dilakukan dengan terbuka karena Jepang tidak segan-segan untuk menangkap dan menyiksa orang yang ketahuan mengikuti organisasi-organisasi yang menentang pemerintah Jepang. Menurut orang-orang yang pernah mengalami pendudukan Jepang di Tanah Karo, pemerintahan Jepang jauh lebih kejam dari pemerintah Belanda. Akibat kondisi yang seperti itu Rakutta Sembiring Brahmana disuruh oleh ayahnya untuk berdagang.

Pada masa itu Rakutta Sembiring Brahmana memutuskan untuk berdagang pakaian, maka ayahnya kemudian menjual beberapa kerbau miliknya untuk modal putera tercintanya ini. Keputusan Rakutta Sembiring Brahmana untuk berjualan pakaian dipengaruhi oleh kondisi pada masa pendudukan Jepang, kain sangat minim sehingga orang seringkali hanya mempunyai satu pasang baju yang dipakai hingga berhari-hari.

Usaha dagang kain Rakutta Sembiring Brahmana tidak berjalan lancar. Hingga berhari-hari tidak ada satu potong pakaian pun yang laku. Ada beberapa alasan mengapa usaha milik Rakutta Sembiring Brahmana ini tidak dapat berjalan, pertama Rakutta Sembiring Brahmana sendiri tidak memiliki jiwa dagang sehingga ia tidak mampu menarik minat pembeli untuk membeli barang dagangannya. Kedua, pada masa itu keuangan masyarakat yang sangat minim akibat pendudukan Jepang, sehingga masyarakat tidak mampu untuk membeli pakaian. Usaha dagang ini kemudian akhirnya ditutup.

Rakutta Sembiring Brahmana dikenal sebagai sosok ayah yang tegas bagi anak-anak dan isterinya. Beliau juga dikenal sebagai orang yang sangat cuek kepada anak-anaknya, artinya beliau tidak mau menunjukkan secara nyata perhatiannya kepada anak-anaknya. Namun di balik sifatnya yang cuek tersebut beliau sebenarnya sangat menyayangi anak-anak dan isterinya.

Ketegasan Rakutta Sembiring Brahmana ini sangat dipengaruhi oleh kepribadian dan kegiatan beliau yang banyak berkiprah di dalam dunia politik. Beliau menerapkan disiplin yang sangat ketat bagi anak-anaknya, dan jika dilanggar maka dia tidak segan-segan untuk menasehati atau memberikan hukuman kecil kepada anaknya. Setiap anak dibebebankan pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci, atau memasak.

Setelah anak-anaknya memasuki sekolah, Rakutta Sembiring Brahmana tidak pernah membangunkan anak-anaknya untuk segera berkemas ke sekolah. Rakutta Sembiring Brahmana membiasakan agar masing-masing putera dan puterinya itu dapat hidup mandiri. Demikian juga untuk masalah jam tidur, anak-anaknya biasanya sudah tidur sebelum pukul Sembilan pada saat hari sekolah. Tidak ada satu anak pun yang berani melanggar aturan ini. Biasanya sebelum dikomando mereka sudah masukke kamar tidur masing-masing. Terkecuali hari Sabtu, Rakutta Sembiring Brahmana memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk tidur diatas jam sembilan. Biasanya anak-anaknya juga dibebaskan untuk ke luar rumah untuk pergi ke tempat teman, bioskop ataupun pasar malam.

Bagi anak-anaknya Rakutta Sembiring Brahmana ini adalah sosok ayah yang demokratis. Beliau sangat jarang sekali berkumpul dengan anak dan isterinya dirumah karena kesibukan beliau. Beliau juga sangat jarang makan bersama denga nanak-anaknya. Menurut penuturan salah satu putera Rakutta Sembiring Brahmana, biasanya mereka dapat bertemu dengan ayahnya dan menyampaikan keluh kesahnya pada saat pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Rakutta Sembiring Brahmana ini biasanya sudah bangun pagi di bawah jam lima pagi. Setiap pagi Rakutta SembiringBrahmana duduk santai sambil minum air putih dan membaca Koran. Beliau tidak minum kopi atau minuman lainnya karena beliau mempunyai riwayat penyakit diabetes sehingga beliau tidak diperbolehkan untuk minum minuman seperti itu. (21)

Rakutta sembiring Brahmana mempunyai hobbi main catur dan sepak bola.Beliau juga sangat gemar menonton di bioskop. Jika Rakutta Sembiring Brahmana tidak dalam keadaan sibuk, biasanya beliau menyempatkan untuk menonton film terbaru di bioskop. Kebiasan-kebiasaannya ini tetap dilanjutkannya setelah ia menikah. Rakutta Sembiring Brahmana tidak pernah sekali pun mengajak anak dan isterinya untuk menonton bersama di bioskop. Beliau juga tidak pernah mengajak puteranya untuk bermain olahraga kegemarannya sepak bola.

bersambung ke bagian 4

(18) Prinst Darwan, Adat Karo, Medan: Bina Media Perintis, 2004, hal.113.
(19) Wawancara dengan Mulih Hitdjrah Sembiring Brahmana di Medan, pada tanggal 23 Juli2010.
(20) S. Wojowasito, Kamus Umum Belanda-Indonesia, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoevel, 2003, hal .127.
(21) Wawancara dengan Netapken Sembirng Brahmana di Medan, pada tanggal 12 Juni 2010

1 comment: