23 Mei 2013

Karo dari Penuturan Sibayak Lau Cih (Sipoet) -1898

 
 

Lampiran IV

KETERANGAN

BEBERAPA

BENDA KARAUW,

DITAWARKAN OLEH

DATOEQ Seri Indra LELA SETIJA RADJA, Wazir SAPOELOEH Doewa Kotta (HADJI MOHAMMAD NOER OF Hamparan Perak).

Informasi yang disediakan oleh Sibajak dari Sungei Sipoet (Bekalla) serta Semaloen Semina dari Taboeran.

No. 1. Tjapah. (Karauw dan Melayu). Sebuah benda berbahan kayu bulat untuk tempat hidangan makanan, yang dibuat oleh orang-orang dari banir kajoe (bongkol pada akar beberapa pohon) dari berbagai  kayu. Bentuk bulat tersebut diperoleh dengan cara meletakkan paku di tengah potongan kayu lalu dengan dipasang tali untuk menggambar lingkaran. Pengolahan lebih lanjut dilakukan dengan memakai sekin (Melayu : parang), sebuah raoet (Mal : pisauw raoet) dan pahat (Mal : pahat = pahat). Waktu pembuatan: dua hari.

Catatan yang dibuat:

Para Karauw makan dua kali sehari, sekitar jam 7 di pagi hari dan sekitar jam 7 di malam hari. Mereka bekerja di hutan, dari jam 10:00 hingga jam 07:00 malam. Saat makan malam jam, kumpul keluarga di sekitar "tjapah,” dimana nasi hangat terhidang menunggu diraup dan terhidang juga seperti makanan yang berbahan babi, kerbau atau daging rusa, dll, dan sajoer : Goelai-goelai2 (Karauw).

Karawu makan dengan menggunakan tangan .

Yang juga dimakan : Kerang : tjih (Kar.) = Sipoet (Mal), kura-kura sungai : lebauw (Kar.) = Labi-labi (Mal), anjing: Bijang (Kar.), Kucing : koetjing (Kar. dan Mal.), semua jenis ikan sungai dan ikan laut. Ikan: binoeroeng (Kar.); monyet : Kera (berekor panjang), beng kala (berekor pendek), iembauw (Kar. dan Mal .) lotoang (Kar. dan Mal.) koelikap (Kar.) = Kiah-Kiah (Mal).

Lolah lolah

20 Mei 2013

Pembuatan Gula Merah (Perpola Lauburah)

Sepenggal Kisah Pembuatan Gula Merah (Perpola Lauburah)
Oleh Thomy Tarigan

25 April 2013

Lagu Keroncong : Erkata Bedil (1970)

Lagu Erkata Bedil ini terdapat dalam album "Songs from Tapanuli in the Krontjong Beat." Ada kesalahan besar, bahwa sebenarnya lagu ini bukan berasal dari daerah Tapanuli tetapi berasal dari Karo yang berada di daerah yang sama yaitu Sumatera Utara.

Lagu Erkata Bedil adalah ciptaan komponis Djaga Depari dan dalam album ini, lagu Erkata Bedil dinyanyikan dalam irama Keroncong yang diaransmen ulang oleh R. Pirngadie. Dinyanyikan oleh M. Rivany bersama Orkes Keroncong "Tetap Segar." Direkam di tahun 1970 oleh Evergreen Monaural Records.


Dalam album ini juga terdapat lagu Karo berjudul "Turang." Lagu Turang sebelumnya pernah menjadi pengisi musik dalam filem yang berjudul sama yaitu filem "Turang." Lengkapnya dapat dinikmati di link berikut : Lagu Turang (1970).

Lagu : Turang (1970)

Lagu Turang ciptaan Husin Ngalimun menjadi pengisi musik dalam filem "Turang” di tahun 1957. Saat itu lagu ini dinyanyikan oleh Tuti Daulai. Film “Turang” ini mengisahkan perjuangan orang-orang dari suku Karo pada waktu Revolusi Agustus '45 di Sumatra Timur, pemutaran pertamanya dilangsungkan di Istana Merdeka dan disaksikan oleh Presiden Sukarno. Sayang sekali filem ini hilang bersama jatuhnya Soekarno.

Di tahun 1970 lagu "Turang" digubah ke dalam musik Keroncong. Dinyanyikan oleh Rita Zahara bersama Orkes Kroncong Tetap Segar. Diaransemen ulang oleh R. Pirngadie. Direkam di Evergreen Monaural Records.
Rita Zahara
Lahir : Singapura, 5 Desember 1942
Wafat : Jakarta, 8 Maret 2007
Sumber foto : Tabloidnova.com
Sedikit tentang filem TURANG (1957) :



Sinopsis :


Filem berjudul "Turang" terpilih sebagai Filem Terbaik FFI (Festival Filem Indonesia) tahun 1960. Bercerita tentang perjuangan Rusli dalam melawan penjajah di Sumatera. Ketika terluka, ia dirawat oleh Tipi. Tumbuhlah rasa cinta diantara mereka tetapi keadaan tidak memungkinkan untuk mereka bersama karena Belanda terus menyerang dan pasukan harus terus berpindah-pindah.

Kisah perjuangan gerilya melawan Belanda di Tanah Karo (Sumatera Utara), khususnya di Seberaja, kampung yang pernah jadi pusat komando. Wakil komandan Rusli (Omar Bach) yang terluka diserahkan perawatannya kepada Tipi (Nizmah), adik anggota gerilyawan Tuah (Tuahta Perangin-angin). Tumbuhlah cinta antara Rusli dan Tipi, namun keadaan tidak memungkinkan mereka terus bersama. Serangan Belanda, atas petunjuk mata-mata Dendam (Hadisjam Tahax), memaksa pasukan terus berpindah-pindah, bergerilya. Selanjutnya bisa dibaca pada tulisan sebelumnya : Lenyapnya Film Turang (1957) dan Piso Surit (1960).



16 April 2013

Perempuan Karo dalam Kemerdekaan



Dari tahun 1982 hingga 1985, Prof. Dr. Mary Steedly, guru besar Antropologi di Universitas Harvard (USA), melakukan penelitian mengenai Karo di Medan, Deliserdang dan Kabupaten Karo yang kemudian menghasilkan buku berjudul Haging Without A Rope: Narrative Experience in Colonial and Post Colonial Karoland (1993). Kini, Steedly menerbitan sebuah buku baru berjudul Rifle Reports: A Story of Indonesian Independence. Buku ini berisikan sejarah etnografis mengenai perjuangan kemerdekaan RI (1945-50) di Dataran Tinggi Karo.

Laporan Rifle merajut kenangan pribadi dan keluarga, lagu dan cerita, memoar dan sejarah lokal, foto, dan monumen, bagaimana perempuan dan laki-laki Karo berkontribusi pada pendirian bangsa Indonesia. Perjuangan nun jauh dari ibukota negeri ini.

The routes they followed are divergent, difficult, sometimes wavering, and rarely obvious, but they are clearly marked with the signs of gender. This innovative historical study of nationalism and decolonization is an anthropological exploration of the gendering of wartime experience, as well as an inquiry into the work of storytelling as memory practice and ethnographic genre.

-------------------
On August 17, 1945, Indonesia proclaimed its independence from Dutch colonial rule. Five years later, the Republic of Indonesia was recognized as a unified, sovereign state. The period in between was a time of aspiration, mobilization, and violence, in which nationalists fought to expel the Dutch while also trying to come to grips with the meaning of "independence." Rifle Reports is an ethnographic history of this extraordinary time as it was experienced on the outskirts of the nation among Karo Batak villagers in the rural highlands of North Sumatra. Based on extensive interviews and conversations with Karo veterans, Rifle Reports interweaves personal and family memories, songs and stories, memoirs and local histories, photographs and monuments, to trace the variously tangled and perhaps incompletely understood ways that Karo women and men contributed to the founding of the Indonesian nation. The routes they followed are divergent, difficult, sometimes wavering, and rarely obvious, but they are clearly marked with the signs of gender. This innovative historical study of nationalism and decolonization is an anthropological exploration of the gendering of wartime experience, as well as an inquiry into the work of storytelling as memory practice and ethnographic genre.

Editorial Reviews
From the Inside Flap
"Steedly's project is not just to read history against the grain, but to significantly interrupt the national history of Indonesia, with fragments of remembered pasts from what she calls the outskirts of the nation. Her narrative opens to the complexity of the past and brings us to a place where the granularity of detail is left to generate multiple puzzlements. Rifle Reports reflects upon material experiences of the past refracted across remembered stories in a precise and telling manner that reveals the authorized history of the nation to be just one of those stories."--Nancy Florida, University of Michigan

About the Author
Mary Steedly is Professor of Anthropology at Harvard University and the author of Hanging without a Rope: Narrative Experience in Colonial and Postcolonial Karoland.

Product Details
Paperback: 414 pages
Publisher: University of California Press (May 10, 2013)
Language: English
ISBN-10: 0520274873
ISBN-13: 978-0520274877
Product Dimensions: 9 x 6 x 1 inches

Source : Amazon.com