19 September 2014

Membuat Pewarna Kain (Warna Indigo)


Perempuan Karo sedang bekerja untuk membuat pewarna kain (indigo)
Karo women busy with making indigo for dyeing textiles
Date :  1915-1935
Source : Tropenmuseum
Tanaman pewarna Indigo
Indigo vats of the Karo in the rocks along the Lau Bedimbo-river, Sumatra.
Nederlands: Stereonegatief. Indigokuipen uitgehouwen in de rotsen aan de oever van de Lau Bedimbo, Karolanden, Sumatra
Date      1915-1935
Source : Tropenmuseum

Perempuan Karo sedang bekerja untuk membuat pewarna kain (indigo)
Karo women busy with making indigo for dyeing textiles
Date :  1915-1935
Source : Tropenmuseum

Konfrensi Guru Perempuan (1943)

Konfrensi guru perempuan di Deli, Sumatera (1943)
Conferentie van guru-vrouwen in Deli, Sumatra
Source : Tropenmuseum

15 September 2014

Video Taneh Karo Tahun 1970








Pada menit ke 7.01 akan terlihat suasana kehidupan di Taneh Karo tahun 1970
 pada video berikut ini :

Tugu Kapiten Purba (Kabanjahe)



 

Tugu Kapiten Baru – Ikon Kabanjahe yang Terlupakan



Kabanjahe adalah ibu kota Kabupaten Tanah Karo. Kota yang terletak 62 kilometer di tenggara kota Medan ini bisa ditempuh 2 jam perjalanan darat.

Kabanjahe sebagai daerah yang dingin karena berada di atas 1000 meter DPL sangat terkenal dengan penghasil sayur mayur. Dengan daerahnya yang dingin tersebut maka sangat asyik menikmati suasana kota dengan secangkir kopi Sidikalang di warung kopi Tiga Serangkai. 

Saya tersadar dari lamunan ketika angkutan kota melewati kedai kopi ini dengan musik hangar-bingarnya. Dengan lagu Karo yang khas alat musiknya angkutan kota ini menyadarkan saya untuk kembali melanjutkan penelusuran kota yang sudah lama sekali tidak saya sambangi.

Oya… kadang ketika kita berada di suatu tempat kita lupa untuk melihat lebih detail tentang daerah itu, tetapi ketika kita sudah jauh meninggalkan daerah tersebut baru kita sadar kalau ada sudut tertentu kota yang selama ini lolos dari pengamatan kita.

Nah… hal yang sama terjadi pada saya. Saat itu saya terhenyak karena Tugu Kapiten Purba yang hampir setiap hari saya lewati luput dari pengamatan saya selama ini.

Saya jadi penasaran, apa sebenarnya isi tulisan yang ada di monumen tersebut? Berikut adalah hasil penelusuran saya.

03 September 2014

Monang Sinulingga



Monang Sinulingga (Sumber Indonesiabase.com)

 Suka “Main Taruhan” Guna Tambah Nafkah
 (Sinar Harapan, Jumat 3 Mei 1974)


NAMANYA Monang Sinulingga. Orangnya polos dan lucu, bukan main senangnya waktu tahu bahwa fotonya mau diambil dan juga sewaktu dia mau diwawancarai.

Dataran tinggi Tanah Karo Sumatra Utara yang dingin itu, mempunyai penduduk yang hidup dari hasil pertanian terutama sayur mayur, dan biasanya kaum lelakinya menghabiskan waktunya ngobrol-ngobrol dan main catur di warung-warung. Dan, Monang Sinulingga, putera Karo yang tidak tahu nama-nama pembukaan atau pertahanan teori-teori catur yang dimainkan, secara mengagumkan telah berhasil mengalahkan MI Ardiansyah dan Dr. Watulo baru-baru ini di Jakarta.

Sering bertaruh

SEMASA Monang masih bayi, ayahnya meninggal dunia, dan menyusul ibunya 4 tahun yang lalu. Tinggallah Monang bersama tiga saudaranya sebagai yatim piatu.

Pada tahun 1972 dan 1973 dia berhasil memenangkan juara catur Sumatra Utara.

Berapa umurnya sekarang? “Kira-kira 28 atau 29 tahun dan saya tidak tahu pasti tanggal kelahiran saya” katanya.

Dua tahun yang lalu dia sudah berumah tangga. Rupanya Bupati Tanah Karo menaruh perhatian terhadap kebolehan anak ini, sehingga sejak dia menjadi menjuarai catur di Sumatra Utara dia pun diangkat jadi karyawan Kabupaten sebagai pegawai harian dengan gaji Rp 2.600,- satu bulan. Dan dia dapat sebidang tanah sawah. “Sampai sekarang sawah itu belum berbuah” katanya penuh humor. Sebagai tambahan pendapatan sehari-hari dia suka bertanding dengan uang taruhan kecil-kecilan.

“Kawan-kawan sering datang mengajak bertaruh, malahan ada yang mengajak taruhan Rp 200,- sekali main”, katanya dengan gembira. “Dalam sehari rata-rata dapat menghasilkan Rp 500,- sampai Rp 600 “ tambahnya.

DENGAN spontan Monang Sinulingga mengatakan bagaimana gembiranya dia diikutsertakan memperkuat Tim Nasional Indonesia ke Olympiade Catur XXI di Nice, Perancis pada bulan Juni 1974 yang akan datang.

Sejak muda dia mulanya hanya tahu “catur Karo” itu permainan catur gaya Karo yang punya menteri (mesah) dua buah. Saya sebenarnya bukan pemain alam lagi, kata Monang menanggapi julukan yang diberikan kepadanya. “Dulu memang saya bermain tanpa teori” katanya.

Pemain alam?

Sewaktu tahun 1965 Monang memasuki Persatuan Catur Medan. Dia mulai membaca tulisan-tulisn mengenai catur, dari jalannya perandingan dalam majalah atau suratkabar-surat kabar. Bahkan buku-buku catur juga sudah mulai digarapnya.

“Salah satu buku yang saya kagumi adalah buku karangan Dr. Max Euwe (bekas juara catur dunia tahun 1937) terjemahan Indonesia”, katanya sambil menghisap rokok kreteknya.

Monang Sinulingga yang beragama Kristen Protestan ini kalau lagi main catur, merokoknya, wah, seperti lokomotif. Putera Tanah Karo yang hanya mampu sekolah sampai kelas dua SMP karena tidak punya biaya ini rupanya sudah mulai senang membaca buku-buku catur.

Bingung dan Gugup

IBARAT seorang kampung yang masuk kota Metropolitan, yang suka bingung dan gugup lihat “gegap gempitanya” kota ini, begitulah Monang putra Tanah Karo ini. Selasa malam yang lalu ia bingung setengah mati sewaktu berhadapan dengan Grand Master Rusia Paul Keres yang kebetulan datang ke Indonesia untuk melakukan “demonstrasi simultan”.

Sewaktu Paul Keres memulai pertandingan, Sinulingga tidak mengenal dan belum pernah melihat cara pembukaan seperti itu. “Saya jadi bingung saat itu” komentarnya.

Dalam hatinya dia berfikir, ”inikah pertandingan demonstrasi, kalah atau menang jelas saya tidak puas, tapi kalau kalah malunya bukan main”.

Boleh jadi perasaan inilah yang membuat dia menjadi gugup. Alhasil dalam perandingan “demonstrasi simultan itu” dibandingkan dari peserta lainnya, Monang Sinulingga yang lebih dahulu menjatuhkan rajanya.

Diakuinya bahwa pengalaman pahit itu menjadi pelajaran paling berharga dalam hidupnya. Padahal saat itu pembukaan GM Rusia ini adalah “Varian Keres” pada pertahanan Sisilia. “Keres memang kuat” kata Sinulingga.

Menurut Sinulingga, pemain dunia yang dikaguminya ialah Bobby Fischer karena pembukaannnya. Sedangkan pemain nasional yang paling berkesan ialah Jacobus Sampow dan Johny Suwuh. Boleh jadi karena dia pernah dikalahkan kedua pemain ini.

Punya Tekad

PADA pertandingan seleksi national untuk Olympiade yang akan datang (maksudnya di Junani), minggu lalu di Jakarta, Monang Sinulingga dikalahkan pada babak permulaan oleh Sampow dan Suwuh. Tetapi kekalahannya ini tidak membuat dia patah semangat.

Malahan permainannya semakin mantap dan dengan semangat yang menyala-nyala dia behasil masuk “Enam Besar”.

Dikatakannya mengenai ikutnya dia ke Nice, biarpun bukan pemain inti tidak menjadi soal baginya. “Yang penting ke Olimpyade di Perancis itu untuk cari pengalaman,” komentarnya.

Sebagai orang yang berbicara kepada dirinya sendiri, Monang Sinulingga mengatakan, “sekembalinya dari Perancis nanti mutu permainan saya pasti bertambah”.

Diceritakan Monang, bahwa seorang pemain kawakan catur Medan Dami Panggabean yang memberikan dorongan kepadanya untuk terus main catur. “Olahraga catur dipertandingkan secara nasional dan internasional,” kata Panggabean kepada Sinulingga . Ini yang membuat saya punya tekad katanya.

Dalam masa 20 tahun ini, Monang Sinulingga adalah putra Tanah Karo kedua yang pernah “menggegerkan dunia catur Indonesia” setelah Merlep Ginting.

Merlep Ginting, seorang pemain alam, hampir pernah mengalahkan Master Internasional Belanda Prins pada tahun 1953.

Seorang tokoh masyarakat Sumatra Utara dalam mengomentari prestasi Monang Sinulingga ini mengatakan, “kalau Sumatra Utara punya seorang gubernur seperti Ali Sadikin, pasti manusia seperti ini akan dibina hingga dapat membawa keharuman Indonesia. (PAR/DM) 


 ----------------------------------------------------------------------------


Mejuah juah

Tidak banyak dari kita yang kenal Alm. Monang Sinulingga, seorang atlite internasional di Cabang Catur telah mengharumkan nama Indonesia khususnya Karo di kancah Cabang Catur. Gelar yang di sandang oleh Monang Sinulingga adalah Master Nasional, dia mendapatkan kesempatan gelar master Internasional, tetapi dia menolaknya. apa alasan menolak bulang tanyaku padanya pada wawancara di tahun lalu, "Gelar tidaklah terlalu penting bagi saya, tetapi tetap berkarya dan berprestasi"

Monang sinulingga adalah sosok yang sederhana, bermain di kancah catur internasional tidaklah membuat dia menjadi sombong. Monang Sinulingga telah di panggil, selamat jalan bagimu.

Sebuah wawancara yang saya lakukan tahun lalu, sebelum Alm di panggil..

Monang Sinulingga Di Hari Tua 
Ditulis oleh Eddy Surbakti

Banyak sisi kehidupan yang dapat memperkenalkan Taneh karo ke depan depan masyarakat luas. Taneh Karo yang selalu diidentikan dengan keadaan alam baik secara pariwisata maupun pertanian, keunikan budaya/adat adat dan sisi sisi lain yang menarik untuk dikaji lebih mendalam.

Dibidang olah raga banyak juga masyarakat karo yang mempunyai prestasi dipanggung nasional dan internasional. Monang Sinulingga, pria kelahiran tahun 1946 dengan nilai ELO rating pecatur Indonesia  okteber 2006 (dataterakhir yang diperoleh ) sebesar 2295.

Pria berasal dari desa lingga kab. Karo, pada tahun 1952 menghabis kan waktunya di Namo terasi, Kec. Binjai. Membantu orang tuanya untuk bertani dan bercocok tanam. Sehingga pada tahun 1966 kembali ke kab. Karo .

28 Agustus 2014

Sibolangit, 1918

Kampung Sibolangit di Hulu Deli, Sumatera Utara
De kampoeng Siboe Langit in Boven-Deli op Noord-Sumatra
Fotografer :   C.B. Nieuwenhuis
Date : ca.1918

Sibolangit, 1947

Pasukan Belanda dalam perjalanan mereka ke Sibolangit, dimana PDAM Medan berada.
Politioneel Actie/ Agresi (1947)
Medan. Nederlandse troepen op weg naar Sibaulangit, waar zich de waterwerken van Medan bevinden