20 Agustus 2015

Si Radjanta Menggugat Raja Kelelong




Sibayak Lingga Raja Kelelong
ditabalkan menjadi  Sibayak Lingga pada tgl 25 Juli 1935
Sibayak Lingga, Pa Sendi dan keluarga

Kabar dari Kesibayakan Lingga.

Sejak beberapa bulan lalu di Kesibayakan Lingga, ada permintaan yang dibuat oleh Si Radjanta, Kepala Oeroeng Teloe Kuru (Kesibayakan Lingga) akan kepemimpinan di Kesibayakan Lingga yang diajukan ke Pemerintah.

Masalahnya adalah sebagai berikut:

Pada tahun 1907 di daerah Lingga ada dua pemimpin yaitu Pa  Sendi dan Pa Terang. Pa Terang  adalah anak tertua dan karena itu lebih tinggi posisinya dibanding Pa Sendi. Pada tahun 1921, Pa Terang meninggal dunia, sehingga Pa Sendi melanjutkan kepemimpinan di Kesibayakan Lingga sampai tahun 1934.

Setelah kematian Pa Sendi di tahun 1934, kekuasaan sepertinya akan diturunkan kepada putra Pa Sendi yang berusia 25 tahun yang bernama Raja Kelelong.  Perihal rencana ini, anak almarhum Pa Terang yaitu Si Radjanta merasa dilangkahi. Ia sebagai satu-satunya anak yang masih hidup dari anak tertua Sibajak mengklaim memiliki  sebagai pemimpin.

Namun, harus diakui bahwa pemimpin dari Baroes Djahé, Koeta Boeloeh, Lingga, Sarinembah dan Sukkah (Suka) sudah memiliki keputusan yang diambil pada tanggal 23 Juli 1926 di mana peralihan penguasa atas Kesibayakan Baroes Djahé, Lingga dan Sarinembah akan turun-temurun dan hanya akan dilanjutkan pada keturunan yang lain bila  tidak adanya keturunan dari pemimpin yang mangkat. Keputusan ini kemudian disetujui oleh Gubernur Pantai Timur Sumatera dan atas dasar itu, sehingga tampak jelas bahwa anak Pa Sendi mengambil alih pemerintahan.

Namun, putra Pa Terang, Si Radjanta, berpendapat bahwa keputusan itu  tidak memiliki dasar yang jelas, sehingga ia mengajukan permohonan kepada Gubernur,  "keputusan pengaturan penguasa tentu demi  menjaga martabat diri dari sang pemimpin  dan untuk  memastikan keberlanjutan kekuasaan keturunan mereka. "

Si Radjanta menyatakan keputusan itu jauh dari tujuan.

Menurut penilainnya gejolak yang sama akan muncul dalam empat Kesibayakan lainnya karena mengaku akan didukung oleh  orang-orangnya.

Karena ia adalah keturunan dari Sibajak tertua dan karena itu - dengan mengabaikan keputusan keputusan lainnya -   ia mempunyai hak, Si Radjanta akhirnya kepada Gubernur minta untuk dikukuhkan sebagai pemimpin Kesibayakan Lingga dan beroleh kekuasaannya

Dari Koran :  Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië
26-03-1935



19 Agustus 2015

Pa Sendi, Sibayak Lingga Wafat (1934)






Sabtu, 28 Juli 1934, Sibajak dari Lingga, Pa Sendi, wafat pada usia 65 tahun setelah lama sakit.

Pa Sendi, yang merupakan penduduk asli Lingga dan mempunyai waktu yang sangat panjang sebagai Sibayak dan sangat berpengaruh. Mendapatkan mendaapatkan penghargaan Bintang Emas dari pemerintah kolonial Belanda.

Pada tahun 1932, genap 25 tahun Pa Sendi berkuasa, setelah tanggal 25 Desember dua puluh lima tahun yang lalu ia menandatangani “Pernyataan pendek” (Korte Verklaring). Pa Sendi sudah lama kesehatannya terganggu dan posisinya diganti oleh putra sulungnya yaitu Raja Klelong.

Selasa lalu, dilakukan upacara pemakaman Sibajak dengan adat Karo dan dimulai pagi hari. Jenazah dari Sibajak dengan khidmat dibawa ke arah gunung, yaitu sekitar satu kilometer di luar kampung tersebut dan untuk mengawasi seluruh dataran tinggi. Di dekatnya ada juga kuburan dua mantan Sibajak Lingga bersama-sama dengan ibu dari almarhum Pa Sendi dan istri pertamanya.

Banyak orang menghadiri upacara antara lain : Gubernur Pantai Timur Sumatra diwakili Assisten Residen Simeloengoen dan Karolanden, Mr. Van Rhijn..

Koran : Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië
10-08-1934



Harimau dari Berastagi (1938)



ilustrasi : Menjerat Harimau Sumatra
Sekitar tahun 1900



Ada sering pembahasan mengenai pertanyaan dari Harian “Deli Courant,” bagaimana penanggulangan Harimau yang kini semakin ada muncul di Berastagi - dataran tinggi Karo (di Pantai Timur Sumatera). Baru-baru ini ada warga kampung Djarang Moeda (Jara Nguda), berdekatan dengan bangunan-bangunan di Goendaling, malam itu melihat seekor Harimau telah mengambil kepemilikan beberapa anjing. Mereka menemukan jejak hewan itu.  Mereka pergi mencari kediamannya, tapi tidak bisa menemukannya.

Malam berikutnya seorang Karo yang bersenjatakan tombak berjalan-jalan dekat komplek itu, bertemu dengan Harimau. Tiba-tiba tepat di depannya berdiri raja Harimau yang sangat besar, yang sedang bersiap-siap untuk menyerang dia. Orang itu tidak berpikir dua kali. Pada saat Harimau itu menyerang, ia mengarahkan  tombaknya  menikam ke arah perut sang Harimau. Hewan itu jatuh ke tanah dan meraung -raung  mengeluarkan darah sampai mati. 

Harimau tersebut keesokan paginya diangkut ke pasar pusat kota ini, mengundang besar  minat  orang melihat yang mengalahkan binatang itu. Salah satu yang mempunyai kulit Harimau saat ini adalah Sibajak Lingga.

Dari Koran : De Volksvriend
Tanggal : 07-07-1938







"Kegembiraan tanpa memangsa."

Bukan hanya Goendaling  yang menempati  hati para pengunjung liburan, mereka juga para harimau - harimau itu.

Akrab seperti dapat diasumsikan,  Harimau tinggal di Sumatera. Hal ini jelas tidak ada hubungannya dengan Reformasi Administrasi, mereka ada di sana sebelum dan bahkan jauh sebelumnya, ketika Belanda belum tahu apa-apa tentang Sumatera.   Yang kita hanya ingin tunjukkan harimau selalu menjadi artikel yang sangat populer di pulau ini.

Bagaimanapun, sekarang mereka muncul di Berastagi, mereka layak menjadi perhatian khusus. Rupanya tidak begitu banyak hunian harimau yang dapat mereka rambah dan setiap-setiap tahun secara berkelompok mereka berjalan.  Di  Sumatera mereka  meninggalkan jejak di sana-sini. 

Hanya di Berastagi mereka turun menampilkan diri, dengan kilatan mata genit mereka, beberapa pengunjung melihatnya sendiri.

Singkatnya : Berastagi mempunyai daya tarik tersendiri dan cocok bagi akal bisnis, di atas  semua kesenangan seperti menembak  merpati untuk berjudi . 

Dan untuk menghormati Berastagi harus diakui bahwa itu lebih  menarik, sementara  pengusaha hotel Amstel hari ini  pergi ke polisi melaporkan bahwa salah satu tamunya  mungkin melihat harimau bermain, kucing yang kakinya tinggi.

Singkatnya menyukai yang tidak biasa, luar biasa  oleh karena  Harimau dari Berastagi, mau tak mau, berbeda. Oleh karena harimau itu lebih rapi, yang tahu mana tempat liburan : "kegembiraan tanpa memangsa,” karena mereka berjalan dengan baik melalui kebun dengan ekor panjangnya terayun  ke sana ke sini atau sapaan hangat dari kakinya yang terangkat.

Kalau ada sirkus hari ini lewat tidak akan sulit solusinya.

Sekarang kita bertanya kepada diri sendiri:  "Di mana harimau Brastagi belajar penampilan rapi mereka?"

Koran : De Sumatra post
Bertanggal : 14-07-1938




 

07 Agustus 2015

Max Fleischer Melukis Taneh Karo (1913)




Sebuah desa di Karo (1913)
Nama lengkapnya adalah Richard Paul Max Fleischer (4 Juli 1861 - 3 April 1930). Max Fleischer adalah seorang pelukis Jerman dan juga seorang ahli botani. Sebagai ahli botani ia dikenang karena penelitiannya dengan tumbuhan lumut di Jawa.

Max Fleischer mengambil kelas seni di Breslau, kualifikasi sebagai guru seni pada tahun 1881. Lalu dia melanjutkan studi di Munich dan Paris, di mana minatnya pada ilmu alam tumbuh, kemudian pindah ke Zurich pada tahun 1892 untuk mempelajari geologi. Sejak tahun 1890-an, ia diundang oleh ahli botani Melchior Treub ke Jawa sebagai ilustrator. Ia mengumpulkan spesimen botani dan melakukan penyelidikan tumbuhan lumut. Selama waktunya dihabiskan di Hindia Belanda, ia belajar teknik menciptakan cetakan batik dari pewarna nabati

Setelah beberapa tahun di Jawa, ia melakukan perjalanan ke New Guinea, Kepulauan Bismarck, Australia, Selandia Baru dan Amerika Selatan, sebelum kembali ke Jerman pada tahun 1903. Dari tahun 1908-1913 ia kembali mengunjungi Asia Tenggara, di mana sebagian besar waktunya mengumpulkan lumut, jamur dan anggrek di pulau Jawa.

Pada tahun 1914 ia mulai bekerja di museum botani di Berlin dan tiga tahun kemudian, ia menjadi guru besar botani di Universitas Berlin. Pada 1925 ia melakukan perjalanan ke Kepulauan Canary untuk melukis dan mempelajari tumbuhan lumut. Tahun berikutnya, ia pindah ke Den Haag, dan pada tahun 1927 ia kembali ke Canaries dengan istrinya. Ia meninggal pada tahun 1930.

Selain lukisan di atas, Max Fleischer juga menghasilkan lukisan lainnya, antara lain :

Alun-Alun dengan pohon beringin di Yogyakarta
(1912)
Tiga orang di sebuah kolam
(1899)
Botanical Garden di Bogor
(1900)
Empat candi di Dieng Plateau
(1912)