08 Desember 2014

Kunjungan Pangeran Bernhard ke Taneh Karo, 1971 (Bagian 2)

Bahagian sebelumnya (Bagian 1)











Kunjungan Pangeran Bernhard ke Taneh Karo, 1971 (Bagian 1)

Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard tiba di Lapangan Udara Kemayoran, Jakarta pada tanggal 26 Agustus 1971. Disambut oleh Presiden Soeharto dan istri.





Setelah jamuan santap malam kenegaraan, esoknya Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard berkunjung ke Taman Makam Pahlawan Kalibata dan perkuburan serdadu Belanda di Menteng Pulo. Melakukan penghormatan dan peletakkan karangan bunga. Lalu kunjungan berikutnya ke sebuah acara pameran pembangunan di sekitar Monas. Tarian penyambutan dilakukan. Di atas podium, Pangeran Bernhard dan Ratu Juliana di sambut dan diberi uis dari Karo :






Selanjutnya Pangeran Bernhard juga mengunjungi kampus UI, Istana Bogor, Bandung, Yogyakarta, Borobudur, Bali dan juga Sumatera Utara. Di Sumatera Utara, tak lupa Pangeran Bernhard mengunjungi Taneh Karo :


19 November 2014

Geriten di Lapangan Merdeka (1948)

Geriten atau bisa juga Jambur yang berfungsi sebagai balai (adat) ini berada di lapangan Esplanade atau yang dikenal kini sebagai Lapangan Merdeka Medan. Photo ini bertahun 1948 dan fotografernya adalah Capt. George S. White.

Tak jauh darinya tampak bangunan putih. Sepertinya bangunan ini adalah  Tamiang Monument.

Karo Architecture - Medan, Sumatra 1948. This WWII era photo was taken by Capt. George S. White. Source : Flickr.com


Lapangan Esplanade di Medan
Tahun : 1900-1930
Sumber : Tropenmuseum


Tamiang Monument di lapangan Esplanade, Medan
Tahun :  1900-1922
Sumber : Tropenmuseum

08 November 2014

H.Neumann : Tidak Ada Nama Gereja

Roberto Bangun dalam buku yang disusunnya berjudul “Mengenal Orang Karo" (1989) atau cetakan ulang tahun 2006 dengan merevisi judul menjadi “Mengenal Suku Karo," ada menyertakan surat balasan dari H. Neumann di Belanda. H. Neumann adalah anak dari pendeta J.H Neumann. H. Neumann lahir di Sibolangit tahun 1916. Ayahnya adalah yang untuk pertama kali membuat kamus Bahasa Karo-Belanda dan menterjemahkan Bibel ke Bahasa Karo. Ayahnya sangat berjasa dalam mengabarkan Injil di Tanah Karo.

Kepada H. Neumann, Roberto Bangun bertanya : mengapa nama organisasi Kristen Karo diberikan nama Gereja Batak Karo Protestan? Sedangkan saat datangnya 18 April 1890 Zending ke Buluhawar (dekat Sibolangit) dan bekerja sampai 23 Juli 1941, belum ada nama Gereja. Mengapa diberi nama Batak Karo di tahun 1941? Apakah ini ada hubungannya dengan kekalahan Belanda oleh Jerman hingga NZG harus pergi dan dilanjutkan oleh RMG. RMG dan HKBP tentu tak terpisahkan.

Dua buah tulisan di bawah ini diambil dari buku "Mengenal Suku Karo" yang disusun oleh Roberto Bangun, disunting dari halaman 75-77 dan 125-127. Selamat membaca :

Surat Balasan dari H.Neumann




H. NEUMANN
Handmolen 18
1035 AP AP Amsterdam
Nederland

Amsterdam, 12 Juni 1989
Kepada Yth. Tn. Roberto Bangun
Jakarta Pusat.

Mejuah-juah,
Surat enda ngenca guna catatan-catatan kerna suratndu si kirim kam tanggal 1 Juni ku GBKP i Kabanjahe. Enda sebagai informatie ibas aku nari untuk kam mungkin dorek i pakendu.

Mengenai :
  1.  Pdt Kruyt bukan antar tetapi dia mulai bekerja tgl. 18 April 1890 memberitahukan kata Injil. (Buluhawar)
  2. Waktu berapat synode di mulai menyusun usul-usul liturgi dan si man ikutken (Kerckordc-peraturan-peraturan gereja). Baru tgl. 29 Sept. 1943 gereja GBKP mandiri (jayo). Berarti bukan bergegas, mengambil cukup waktu untuk berunding. (Menimbang lagi)
  3. 100 tahun sudah lewat waktu mulai memberitahukan kata Injil
  4.  Mengenai asal usul kata Batak kalau saya ada lebih kesempatan, akan kirim kabar. Visi dari saya.  Yang sekarang penting pertanyaan : Siapa mulai pake kata batak?
Sinode Sibolangit

Mengingatkanku dari ayahku, penulisan dan pikirannya. Menunjukkan penulisan ayahku MNZG-66 (1922) dan -67 (1923) bahwa judul : Guru jamaat (MNZG-Majalah dari NZG). Isi karangan ayahku dia menganjurkan segera sesudah ada kemungkinan gereja di tanah Karo di mandiri (jayo). Lantas bersambung pikirannya, dia ceritakan kepada saya sesudah berlalu perang di Medan.

Kalau mengikuti sejarah perang dunia ke-II; tercatat, 5 Mei 1940, German menyerang Nederland. Semua hubungan NZG di Indonesia dengan pusatnya NZG di Oegstgeest Zending di Indonesia tersendiri.

07 November 2014

Peresmian Jalan Djamin Gintings dan Tugu Djamin Gintings (1986)





Hari ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, akan menganugerahi gelar pahlawan nasional kepada empat tokoh yang berjasa bagi nusa dan bangsa. Mereka adalah Letjen TNI (Purn) Djamin Ginting, Sukarni Kartodiwirjo, HR Mohammad Mangoendiprojo dan KH Abdul Wahab Hasbullah.

Kita berbangga dan ikut berbahagia, apa yang diharapkan selama ini telah tercapai, memperjuangakan Djamin Gintings mendapat gelar pahlawan nasional. Dan semoga jasa serta perjuangan Djamin Gintings dan pahlawan-pahlawan lainnya menjadi semangat juang khususnya bagi pemuda/i asal Taneh Karo maupun pemuda/i Indonesia dalam mempertahankan Indonesia dan mengisinya demi tercapainya masyarakat adil dan makmur.



Berikut ini ada kisah lalu, saat-saat peresmian Tugu Djamin Gintings (20 Mei 1986) dan bagaimana usaha pak Meneth Ginting (bupati Karo kala itu) memperjuangkan nama jalan terpanjang melintasi 3 kabupaten yaitu jalan Letjen. Djamin Gintings.

Diambil dari buku karangan Prof.Dr.Ir.Meneth Ginting, MADE berjudul "Waktu akan berlalu kenangan indah akan tertinggal: Surat-Surat dari Tanah Karo" yang berisi surat-surat untuk anaknya.

LA NI ARAP
(Surat-surat September 1985 - September 1986)

Halaman 20

11. Tugu Djamin Gintings

Anak-anakku tersayang,

Surat sekali ini agak panjang sepertinya sebuah reportase saja, tetapi Daddy yakin Ananda akan mendapatkan butir-butir pelajaran berharga dari kejadian yang Daddy khabarkan ini. Simaklah !

Daddy melapor kepada Gubernur Sumatera Utara, Pak Kaharuddin Nasution mengenai rencana untuk peresmian Tugu Djamin Gintings, (direncanakan pelaksanaannya pada Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1986 dan meminta pertimbangan beliau, agar yang menjadi lnspektur Upacara adalah Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) H. Alamsyah Ratu Prawiranegara. Gubernur menyambut baik rencana ini dan menugaskan Daddy untuk segera menjumpai Menko Kesra di Jakarta sekaligus mempersiapkan Harkitnas se-Sumatera Utara di Kabupaten Karo. Ini merupakan suatu kehormatan, jarang terjadi kegiatan untuk Tingkat Propinsi dilaksanakan di Kabupaten.

Pak Menteri menyambut baik undangan dan menyatakan,"Pak Bupati.... diantara 11 pimpinan Angkatan Darat pada waktu pemberontakan PKI tahun 1965, hanya saya dan Sdr. Djamin Gintings yang selamat. Saya selamat karena nama yang tertulis di rumah saya adalah A.R.Prawiranegara berbeda dengan nama yang mereka cari Alamsyah. Saudara Djamin Gintings selamat karena bertepatan berada di luar kota. Djamin Gintings itu kawan saya…..dia sahabat saya, saya akan datang ke Karo."

Untuk perayaan hari besar tersebut, acara yang dipersiapkan antara lain, kunjungan ke makam pahiawan, pameran pembangunan, hiburan rakyat, peresmian Jalan Letjen. Djamin Gintings dan peresmian Tugu Djamin Gintings, di Lapangan Pesta Mejuah-juah Berastagi.

Waktu Daddy utarakan ingin memberi nama Jalan Letjen. Djamin Gintings di sepanjang 11 km Berastagi - Kabanjahe, Ketua DPRD Karo Letkol. (Purn) Kursi Singarimbun nampak senang sekali sampai-sampai memberi hormat dengan sikap militer kepada Daddy dengan mata berkaca-kaca.

Dalam upacara Harkitnas, Menko Kesra mengingatkan akan Kebangkitan Nasional yang dicanangkan oleh Budi Utomo 20 Mei 1908 yang merupakan tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia karena peristiwa bersejarah itu merupakan titik tolak tekad perjuangan bangsa kita menuju Indonesia merdeka dan berdaulat. Karenanya peringatan dan nilai-nilai Harkitnas tersebut harus dilestarikan oleh generasi penerus.

Mengenai Djamin Gintings Menko Kesra H. Alamsyah Ratu Prawiranegara mengatakan, ".....beliau adalah pejuang yang gigih, setia, tegas dan konsekwen atas perjuangan. Ketika kita dilanda perpecahan dan akan merubah Pancasila, Djamin Gintings dengan tegas menolak dan berjuang mempertahankan Pancasila, begitu juga pada saat penumpasan PKI. Sangat pantaslah kalau beliau mendapat penghargaan dari bangsa kita, dari masyarakat Sumatera Utara dan rakyat Tanah Karo....."