16 August 2014

Melirik Potensi Wisata Sejarah Tanah Karo

Ada 38 unit bangunan yang dibuat di jaman Belanda terdapat di Brastagi terutama di Gundaling, Lau Debuk-debuk dan bahkan Bandar Baru. Bangunan-bangunan yang ada itu dibangun sejak tahun 1902 hingga tahun 1939. Ini bisa menjadi potensi Wisata Sejarah di Tanah Karo. Belum lagi bangunan-bangunan lainnya seperti Rumah Adat Suku Karo, gua-gua Umang, situs Putri Hijau, begitu juga Palas Sipitu Ruang. 
Selain alamnya yang sejuk, panoramanya yang indah dan hijau, penduduknya yang ramah, wisatawan juga dapat menikmati sajian kuliner khas Suku Karo. 


Melirik Potensi Wisata Sejarah Tanah Karo
Oleh: Erond L. Damanik

Daerah wisata Brastagi di Tanah Karo saat ini masih dikenal sebagai destinasi yang hanya menjual keindahan alam, yaitu iklim tropis dan sejuk. Iklim tropis khas daerah pegunungan dengan ketinggian 1400 mdpl dengan suhu rata-rata antara 18,4°C-19,3°C, dan kelembaban udara pada tahun 2012 adalah setinggi 88,39 persen, tersebar antara 86,3 persen sampai dengan 90,3 persen, membuat daerah ini memiliki iklim yang sejuk dan dingin. Keadaan ini didukung pula oleh hutan seluas 129.749 Ha atau sekitar 60,99 persen dari luas Kabupaten Karo.

Daerah ini sangat ramai dikunjungi pada akhir minggu (weekend tourism) terutama yang datang dari Medan yang hanya berjarak sekitar 56 Km. Pada saat akhir pekan, penginapan (hotel) mulai dari non bintang (tipe melati), hingga bintang lima yang terdapat di kawasan Gundaling (Brastagi) dipenuhi oleh pengunjung. Para pengunjung dapat menikmati keindahan alam Danau Toba dari daerah Sipiso-piso (kawasan Tongging) ditambang dengan keindahan Air Terjun setinggi 137 meter. Dari kawasan agrowisata Simalem Resort di daerah Merek Situnggaling, pengunjung dapat menikmati Danau Toba yang menakjubkan.

Demikian pula apabila sekedar ingin melihat keindahan Kota Brastagi dari bukit Gundaling. Dari kawasan ini, pengunjung dapat melihat kemegahan Gunung Sinabung dan Sibayak. Gunung Sinabung berada di kawasan Lau Kawar berjarak sekitar 15 Km dari Kota Brastagi. Di kaki gunung ini terdapat sebuah danau air tawar yang oleh masyarakat disebut dengan Lau Kawar dengan luas kurang lebih 20-30 hektar. Sedangkan Gunung Sibayak berada di sebelah tenggara Gundaling. Dikaki Gunung Sibayak terutama ke arah timur adalah Lau Debuk-debuk yang menjadi objek wisata air panas bercampur belerang. Kedua gunung ini kerab didaki oleh pecinta alam dari Medan dan sekitarnya.

Kearah timur kota Brastagi terdapat Taman Hutan Raya (Tahura) dan menjadi objek wisata hijau di Brastagi. Suasana hijau tersebut membuat iklim di Tanah Karo semakin sejuk dan indah. Di rindangnya hutan Tanah Karo terdapat  sungai yang disebut dengan Lau Biang yang mengalir dari simpang dua Kabanjahe dan merupakan hulu dari Sungai Patani (Lau Patani) dan terus mengalir hingga Delitua dan membelah kota Medan hingga bermuara ke Selat Malaka.

Situs sejarah yang terdapat di Tanah Karo adalah seperti Situs Putri Hijau di desa Siberaya maupun Palas Sipitu Ruang di desa Ajinembah di sekitar Tigapanah sekitar 10 Km dari Kabanjahe. Demikian pula bila ingin melihat salah satu peradaban orang Karo berupa rumah kolektif (Siwaluh Jabu) di desa Dokan dan Lingga yang telah ditetapkan sebagai 'Desa Budaya' oleh Pemkab Karo. Selain itu, bisa pula mengunjungi Museum Budaya Karo di Lingga maupun Museum Jamin Ginting di desa Suka, Tiga Panah. Disamping untuk berwisata, pengunjung juga dapat berbelanja buah-buahan dan sayur mayur yang segar serta cinderamata lainnya.

Namun demikian, potensi wisata terutama wisata sejarah di Tanah Karo belum tergali sesungguhnya. Tidak banyak yang mengetahui bahwa di Tanah Karo terdapat bangunan bersejarah peninggalan Belanda maupun zending NZG. Bangunan tersebut banyak diantaranya masih eksis tetapi dimiliki oleh individu. Namun sayangnya, keberadaan bangunan bersejarah tersebut tidak banyak diketahui oleh masyarakat sehingga kurang diketahui potensi wisata yang terselubung dari bangunan tersebut.

Wisata Sejarah di Tanah Karo

Berdasarkan peta yaitu: Grote Atlas van Nederlands Oost-Indie: Comprehensive Atlas of the Netherlands East Indies, (1992) yang ditulis oleh J.R. van Diessen (dan kawan-kawan) diperoleh informasi tentang keberadaan bangunan-bangunan eks NZG (Missi Kristen Belanda) maupun pengusaha asing Brastagi dan Kabanjahe.

Dalam peta tersebut diperoleh informasi bahwa sejumlah 22 unit bangunan telah dibangun oleh Belanda seperti Rumah Sakit Tuberclosis Kabanjahe, Rumah Sakit NZG Kabanjahe, Rumah Sakit Kusta Lau Simomo dan sejumlah hotel, gereja, klinik, air minum, bioskop, sekolah, kantor maupun mesjid dan lain-lain. Demikian pula berdasarkan peta tersebut diketahui sejumlah  38 unit bangunan terdapat di Brastagi terutama di Gundaling, Lau Debuk-debuk dan bahkan Bandar Bahru. Bangunan-bangunan yang ada itu dibangun sejak tahun 1902 hingga tahun 1939.

Kawasan ini telah dirancang oleh Belanda menjadi destinasi wisata pegunungan dengan iklim tropis. Pada saat itu, kerinduan pengusaha asing terhadap kampung halamannya di Eropa yang dingin, cenderung terbayar pada saat mereka berada di Brastagi. Bagi pengusaha Belanda, pentingnya berwisata ke Brastagi tercermin pada upaya pembangunan Bandar Udara (bandara) di Brastagi pada tahun 1926. Di Gundaling misalnya, dibangun hotel pertama yaitu Grand Brastagi (dihancurkan oleh pasukan Jepang tahun 1943), demikian pula kolam renang, sekolah perkebunan, sejumlah bungalow, gereja, kantor pos, klinik, bioskop, rumah sakit, dan lain-lain. Di Lau Debuk-debuk dan Bandar Bahru  telah dibangun bungalow (peristirahatan) oleh sejumlah pengusaha asing yang berkantor di Medan.

Dari peta itu diketahui sejumlah bungalow dan sejumlah bangunan yang terdapat di Gundaling, Lau Debuk-debuk dan Bandar Bahru seperti Grand Brastagi Hotel, Maria Hotel, Brastagi Swimming Bath, Boarding School, Planters School, Holt Hotel, Rex Bioscoope, Power Station, Golf Course, Methodist Mission maupun Native House di Peceren dan lain-lain. Sejumlah pengusaha asing yang mendirikan bungalow tersebut adalah seperti Deli Spoorweg Mij, Deli Batavia Mij, Deli Tobacco Mij, Medan Municipality, SIPEF, Netherland Handel Mij, Horrison and Crosfield, RCMA, Anglo-Dutch Association, Senembah Tobacco Mij, HAPM, Gunteal and Schumaker, BPM, Soe Findes and Couth Houses, Wingfood, dan lain-lain.
 
Grand Hotel Brastagi (1935)
Sumber : Media KITLV

Hotel Brastagi (1930)
Sumber : Media KITLV

Planters School, Brastagi (1935)
Sumber : Media KITLV

Brastagi Swimming Bath (1939)
Sumber : Media KITLV


Mengingat potensi wisata itu, maka pada tahun 1927, Brastagi telah dipromosikan ke tingkat internasional lewat sebuah peta wisata yang dilakukan oleh KPM Line, sebuah perusahaan pelayaran dan perjalanan di Belanda. Peta wisata itu menghubungkan daerah wisata seperti Dataran Tinggi Padang, Pulau Nias, Brastagi dan Parapat. Akses menuju daerah ini digambarkan dari Batavia, ke Bengkulu terus ke Padang, Nias, Parapat dan Brastagi. Selain itu, dapat juga dilakukan melalui Eropa langsung ke Medan ataupun dari Penang ke Medan dan selanjutnya menyusuri daerah wisata dimaksud.

Pada saat itu, bangunan-bangunan bersejarah tersebut ada yang dikelola oleh perusahaan asing seperti London Sumatera. Sebagian besar telah dimiliki oleh perusahaan swasta seperti Wisma Panggabean, Hotel Pardede, Bakri Plantations, Wisma Sibayak dan lain-lain. Beberapa bangunan dimiliki oleh individu seperti Wisma Ingan Ukur, Bukit Kubu, Citi Holiday Stoomvaar, Teniera, Sinar Matahari, Fisipera, Mitra, Dora, Gundaling Corner, Sulung Laut, Sigantang Sira, dan lain-lain. Beberapa bangunan diantaranya tetap dikelola oleh perusahaan yang dinasionalisasi tahun 1958 seperti bungalow Maryke, Dura, Menara, Wahaya Daya Pertiwi, Wisma Pertamina, Wisma teleflora, dan lain-lain. Bahkan, diantaranya ada yang dikuasai oleh pemerintah seperti rumah pengasingan Bung Karno di Brastagi.

Sebagaimana diketahui bahwa, Tanah Karo terbuka untuk asing terutama sejak tahun 1886 yang dirintis oleh NZG Belanda dan puncaknya adalah sejak tahun 1902 oleh Pemerintah Residen Sumatera Timur. Akses menuju Brastagi semakin terbuka lebar sejak Josepz Theodore Cremer, manajer N.V. de Deli Maatscahapiij  yaitu perusahaan perkebunan terbesar di Sumatra Timur menggagas pembukaan jalan aspal dari Medan menuju Tanah Karo pada tahun 1906. Demikian pula, Cremer menganjurkan pentingnya sumber air bersih di Medan yang disalurkan dari umbul air Lau Kaban Sibolangit sejak tahun 1908.

Dari penelusuran yang dilakukan, diketahui bahwa sebagian besar keberadaan bangunan tersebut masih berdiri eksis hingga saat ini. Ciri khas bangunan bersejarah yang ada ini adalah arsitektur bangunan yang unik ditambah dengan cerobong asap dari pembakaran dari ruang tamu untuk memberikan kehangatan pada tamu yang menginap. Model rumah dengan cerobong asap ini berasal dari Eropa yang sangat bermanfaat pada saat musim dingin. Model bangunan mulai dari semi permanen hingga permanen dengan menggunakan kayu pilihan maupun cor beton. Awalnya, atap bangunan adalah genteng yang diproduksi oleh N.V. De Deli Klei yang berpusat di sekitar Pasar Merah Kota Medan dan hingga saat ini masih digunakan. Namun beberapa diantaranya sudah diganti dengan seng ataupun bahan lain.

Beberapa bangunan era kolonial yang ada di Gundaling sudah cenderung tidak digunakan lagi. Paling tidak, dari penelusuran yang dilakukan terdapat 8 (delapan) bungalow yang cenderung terlantar, ditumbuhi rumput dan cat yang mulai memudar. Tentu saja hal ini mengurangi potensi wisata sejarah yang dimiliki oleh bangunan bersejarah yang dimiliki oleh Tanah Karo. Demikian pula Ria Bioskop dan Kolam Renang Brastagi yang sudah tidak digunakan padahal memiliki potensi wisata yang tinggi. 

Apabila melirik potensi wisata sejarah berupa bangunan bersejarah yang ada di Tanah Karo, maka seharusnya bangunan-bangunan bersejarah tersebut tetap dilestarikan, dikembangkan dan dioptimalkan.  Bagaimanapun juga, keberadaan bangunan ini menjadi salah satu nilai jual wisata di Kabupaten Karo. Oleh karena itu, apabila keberadaan bangunan bersejarah tersebut dapat digali dengan baik, maka tepat kiranya apabila Tanah Karo menjadi salah satu destinasi wisata di Sumatera Utara. Di wilayah ini bukan saja keindahan dan kesejukan alam yang harus dinikmati, ataupun sekedar belanja sayur dan buah, tetapi juga wisata sejarah berupa bangunan bersejarah, wisata budaya berupa bangunan rumah Siwaluh Jabu di Dokan dan Lingga serta museum Lingga dan Jamin Ginting,  maupun wisata situs seperti Palas Sipitu Ruang maupun Putri Hijau ataupula ecowisata di Tahura.

Oleh karena itu, program wisata seperti City Tours, Pesta Budaya, Carnaval Budaya, Cross Country (lintas alam) maupun menjadikan Brastagi sebagai kawasan untuk rapat, seminar, workshop maupun pelatihan adalah salah satu cara meningkatkan potensi wisata yang dimiliki oleh kawasan ini. Namun demikian, adalah penataan sarana dan prasarana lain yang mendukung kepariwisataan di Tanah Karo.

Terkait dengan bangunan bersejarah ini misalnya, maka leafleat ataupun brosur yang menjelaskan riwayat keberadaan bangunan tersebut mestinya terdapat di kantor-kantor informasi pariwisata di Sumatra Utara. Bila program seperti ini dapat ditingkatkan dan digalakkan maka bukan tidak mungkin apabila ekonomi kreatif masyarakat akan tumbuh dengan baik yang berkontribusi pula terhadap pendapatan daerah. Dengan begitu,Tanah Karo akan menjadi salah satu alternatif  destinasi wisata  di Provinsi Sumatera Utara. Semoga! ***

Penulis adalah mahasiswa Program Doktor (S3)  Ilmu-Sosial Universitas Airlangga Surabaya


Sumber : Analisadaily

No comments:

Post a Comment