14 April 2012

Medan, 1950-1958 : Pusat Roman Picisan (bagian 2)

Budaya Pop dan Dunia Melayu

Meskipun – atau mungkin justru karena – prospek ekonomi suram, Medan memiliki kehidupan budaya yang menggairahkan. Baik produksi maupun konsumsinya, budaya poplah yang paling laris, dibandingkan dengan berbagai wujud budaya Indonesia modren yang lebih serius, serta lebih sadar diri. Bentuk-bentuk visual budaya pop misalnya, seperti filem dan kartun – keduanya realtif merupakan budaya baru – menarik konsumsi khalayak luas, setidak-tidaknya karena tingkat buta huruf yang tingggi di Medan. Dalam hal ini Medan mirip dengan kota-kota utama di Semenanjung Malaya di mana – sesuatu yang menjengkelkan para guru Inggris – ‘selera rakyat’ menentukan pasar dan khalayak lebih menyukai filem Melayu yang sentimentil atau filem Hollywood ketimbang sebuah novel yang bagus sekalipun (Harper 1999 : 282). 


Konon di Medan, bea tontonan – pajak dari tiket bioskop – mencapai tidak kurang dari sepertiga total anggaran pendapatan pemerintah kotapraja Medan. Sekurang-kurangnya ada enam belas gedung bioskop yang memutar filem-filem Hollywood, India dan Melayu yang menampilkan penyanyi-penyanyi terkenal (Buku tahunan 1955 : 24, 219). Rekaman musik dan lagu-lagu pengiring dalam filem-filem dari Singapura dan federasi Malaya (Malaya sebelum 31 Agustus 1957), misalnya seperti Hang Tuah dengan aransemen musik oleh aktor, penyanayi dan pencipta lagu populer P. Ramlee, menemukan penggemarnya di Medan.
Radio merupakan media populer lainnya. Radio Republik Indonesia (RRI) studio Medan sering dikunjungi berbagai penyanyi, kelompok paduan suara dan band pop, Lily’s Band, yang dipimpin penyanyi/komponis Lily Suhairy, merupakan ensamble musik Medan yang paling besar dan terkenal.


Lily Suhairy
Lily Suhairy
Rubiah
Rubiah, penyanyi terkenal yang sering melantunkan lagu-lagu Melayu, juga seorang anggota Lily’s Band; pada masa itu suaranya digunakan untuk sulih suara filem-filem Melayu pop asal Singapura. Penyanyi/penulis pop lainnya asal Medan yang lagu-lagunya sering mengudara di RRI adalah Achmad CB. Penyanyi yang sebahagian masa kecilnya hidup di Malaya ini mendapat julukan ‘raja keroncong’ internasional. Tiga tahun berturut-turut dia pernah memenangkan lomba lagu keroncong di Singapura; dan dia merekam lagu-lagunya di Singapura. Jenis lagu-lagu lain yang populer pada dasawarsa 1950-an adalah lagu Batak modren, gambus dan nasyid. Dua jenis lagu yang terakhir ini diilhami oleh musik asal Timur Tengah. Akhirnya, kelompok-kelompok musik, paduan suara dan ensamble dari Jawa dan pulau-pulau lain secara teratur tampil di studio RRI Medan, serta tempat-tempat lain di kota itu. Selain ada siaran musik, RRI Medan juga punya acara-acara sastra dan pembacaan puisi, yang keduanya sangat populer.



Rubiah & Lena - Sinar (Pembalasan OST - 1950)
Petikan dari filem Pembalasan (1950) terbitan MFP Studio, Jalan Ampas.
Marliah menggunakan suara Rubiah manakala Siput Sarawak menggunakan suara Lena.

Achmad CB
Pada pertengahan 1950-an, Medan dikenal sebagai ‘ibukota roman picisan.’ Percetakan dan penerbitan swasta di Indonesia mengawali usahanya di Medan pada perempat pertama abad ke-20; dan sejak semula percetakan-percetakan ini telah melayani permintaan pasar yang ada. Sekitar separoh semua terbitan di seluruh Indonesia pada tahun 1950-an dicetak di Medan (Barus Siregar, 1953). Akan tetapi kuantitas tidaklah mencerminkan kwalitas terbitan-terbitan ini yang menjadi buah bibir pada masa itu. Sementara hampir-hampir tidak ada pasar untuk karya-karya sastra Indonesia modren yang ‘serius’ di Medan, novel-novel pop tentang perampokan, pembunuhan, penyeludupan, cinta dan seks laris manis, khususnya dikalangan kaum muda. Tidaklah mengherankan bila berbagai catatan kritis atas genre pop ini muncul dalam banyak kolom di lembar-lembar budaya nasional dan majalah yang terbit di Jawa.


Sutradara filem Usmar Ismail, misalnya, merasa bahwa cerita-cerita itu tidaklah menawarkan apapun kepada pembaca, kecuali emosi dangkal, sentimen murahan dan tiadanya pertanggungjawaban moral dan kesemuanya itu akhirnya meracuni pikiran (Barus Siregar 1953 : 24). Banyak pihak memandang isi roman picisan beserta tampilan gambar biduanitanya serta bintang-bintang filemnya dalam majalah-majalah hiburan itu ‘cabul’, yang kemudian menjadi julukan kontroversial atas kota Medan (Nasution 1955 : 261).


Sampul Buku "Tangan Berrnoda."
Penilaian negatif atas tulisan-tulisan dari Medan setelah perang Dunia II, antara lain bertolak pada pandangan Belanda sebelum PD II tentang sastra yang masih terus berpengaruh bahkan setelah Belanda tak lagi memiliki kedudukan yang dominan di Indonesia. Dengan mendirikan lembaga percetakan negara yang bernama Poestaka pada tahun 1908, Belanda menetapkan sebuah standar perihal apa yang disebut sastra (Teeuw 1986 : 13-15). Karya fiksi yang tak sesuai dengan standar sastra yang ditetapkan Belanda disebut sastra liar, sastra yang ‘liar,’ ‘tak terkendali,’ yang ditulis oleh pengarang-pengarang yang tidak mengacu pada ‘kaidah-kaidah sastra.’ Namun penetapan standar ini lebih mengacu pada kepentingan kolonial, daripada bertolak dari kaidah kesusastraan itu sendiri. Teks-teks sastra yang menyinggung agama, ras, dan politik dianggap berbahaya buat kepentingan kolonial dan dengan demikian dicap sastra liar. Lebih-lebih bila satra Melayu yang digunakan dalam sebuah teks sastra tidak sesuai dengan standar pemerintahan kolonial Hindia Belanda tentang apa yang mereka sebut bahasa Melayu atau Indonesia yang baik dan benar, karya semacam itupun akan ditolak.

Namun perlu juga diingat, bahwa batas yang superfisial ini tidaklah seketat yang dibayangkan, Kratz (1991 : 194-5). Teeuw (1986 :73-5) menyebut-nyebut cerita-cerita Hamka yang pada mulanya diterbitkan sebagai roman picisan pun kemudian diterbitkan ulang oleh Balai Poestaka.

Label lain yang bernada negatif yang dilekatkan pada karya sastra asal Medan adalah sastra Medan. Label ini mengacu pada karya-karya Hamka dan pengarang-pengarang Muslim lain asal Medan, yang lebih nasionalis dan politis dari pada karya-karya yang dihasilkan di Batavia (Roolvink 1950).

Sebelum PD II, majalah-majalah berbahasa Belanda di Hindia  Belanda memuat komik-komik Amerika, tetapi hal ini baru polupler setelah PD II. Di Medan misalnya, pada tahun 1954, Waktu menyajikan satu serial komik Flash Gordon.karya Don Barry. Distributor komik Amerika King Feature Syandicate menaklukan pasar Indonesia, dan komik-komik seperti Rip Kirby karya Alex Raymond, Phantom karya Wilson McCoy dan Tarzan pun menjadi populer buat khalayak pembaca luas Indonesia.

Pada akhir 1950-an dan awal 1960-an orang Indonesia pun mulai menciptakan karya-karya komik yang mencerminkan isu-isu sosial dan politik yang lagi hangat pada masa itu. Komik-komik – yang kalau di Medan menampilkan tokoh-tokoh dari cerita-cerita rakyat Batak, sedangkan di Jawa tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan -  muncul sebagai respons terhadap terhadapan dominasi asing dalam jagad perkomikan. 


Sampul 'Drama di Tengah Malam' oleh M.A. Hastati
Dengan dukungan Muhammad Said, wartawan dan pendiri sekaligus editor surat kabar terkenal di Medan, yaitu Waspada, Taguan Hardjo, seorang imigran Jawa-Belanda asal Suriname yang telah menetap di Medan, menjadi salah satu seniman komik Indonesia yang paling populer (Ade Tanesia 2002 : 60-5).

Bersambung ke bagian 3

No comments:

Post a Comment