29 July 2012

Saat Pedagang Kuda Erbulawan

Description : The replay of a war by a group of men on horseback, Karolanden
Date  :    1914-1921
Source : Tropenmuseum
Author  :  Unknown

Dalam Pustaka Kembaren disebutkan bahwa pada zaman dulu sudah ada perdagangan kuda antara dataran tinggi di utara Danau Toba dan Langkat melalui Sungai Wampu (1). Selain itu, dari catatan sejumlah daghregister, dapat diduga bahwa pada abad ke-17, Deli mengirim kuda ke Melaka.

Hal ini dapat dipastikan untuk awal abad ke-19, karena pada saat itu ratusan kuda setiap tahunnya diekspor ke Pinang dan Melaka untuk menarik gerbong kecil di pertambangan timah (2). Perkembangan peternakan kuda di pedalaman mungkin di dorong oleh meluasnya pertambangan timah di Semenanjung.

Diperkirakan pusat pemasok kuda terbesar adalah Pulau Samosir di tengah Danau Toba, tempat kuda-kuda dibeli ketika masih muda, dipelihara di daerah Tongging dan kemudian dijual di Deli. (3) Perdagangan dengan Deli ini mungkin mencakup ratusan ekor per tahun dan menjadi monopoli kepala-kepala di dataran tinggi di sebelah utara Danau Toba, karena wilayah mereka merupakan jaluar yang paling mudah dilewati menuju pesisir (4). Jadi kuda-kuda itu hampir semuanya melewati sela gunung Cingkem.(5)

Sebenarnya perdagangan itu berlangsung melalui dua jaringan sejajar. Yang pertama, pembeli dari Deli datang ke dataran tinggi (Tanah Karo) untuk membeli kuda, antara lain di daerah Tongging (6). Kecuali Tongging, sejumlah tempat di dataran tinggi Karo merupakan pasar kuda, antara lain Tiga Belawan dekat Siberaya dan Tiga Sidaraja dekat Surbakti.

Westenberg mencatat tentang orang “melayu” pedagang kuda yang dalam perjalanan menuju dataran tinggi meletakkan sesaji di makam para sibayak di Kabanjahe dan Barusjahe. Pada wal perjalannya mereka hanya menaruh sirih, kemudian ketika urusan dagangan berjalan lancar, mereka mengorbankan seekor kambing atau ayam putih. (7)

Yang kedua, banyak pedagang kuda dari dataran tinggi pergi ke Pinang atau Singapura. (8) mereka kembali dengan membawa banyak dagangan yang kemudian dijual secara eceran dengan berkeliling dari kampung ke kampung (9)

Pelabuhan untuk membawa Kuda-kuda tersebut dikenal bernama Belawan. Menurut sebuah tradisi (10), sebelum pedagang dari pedalaman akan menjual kuda-kuda ke Pinang, maka ia akan bersumpah bahwa ia tidak akan menipu sesamanya. Bersumpah dinamakan "erbulawan" dalam bahasa Karo. Mungkin dari sini nama daerah ini bermula.


Catatan kaki :

1 Neumann, 1972, hlm. 176

2 Hagen, 1883b, hlm. 143

3 C. de Haan, 1875, hlm. 6; Hagen, 1886, hlm. 354

4 Hagen, 1886, hlm. 355

5  Kruijt, “Deli Zending. Berichten uit Deli,” MNZ, 34, 1890, hlm. 326; Joustra, 1910, hlm. 51

6 C de Haan, 1875, hlm. 6. Tahun 1891, Kruijt melihat seorang Muslim yang tiba di dataran tinggi beberapa hari sebelumnya untuk membeli kuda (Kruijt, “Bezoekreis op het plateau van Deli (karo-land),” MNZ, 35, 1891b, hlm.382). Kecuali Tongging, sejumlah tempat di dataran tinggi Karo merupakan pasar kuda, antara lain Tiga Belawan dekat Siberaya dan Tiga Sidaraja dekat Surbakti (Kruijt, 1891b, hlm. 359-382).

7 Westenberg, 1892, hlm. 227

8 Josutra, “Het jaar 1901 onder de karo-Bataks,” MNZ, 46, 1902b, hlm. 5. Di Nagasaribu, dekat Tongging, Raet bertemu dengan seorang pemimpin yang hendak ke Pinang untuk menjual kuda (Cats Baron de Raet, 1875, hlm. 193). Catatan dalam sebuah laporan kolonial resmi Ingggris tentang hadirnya pendatang “Batak” di Pinang tahun 1835 barangkali perlu dikaitkan dengan perdagangan kuda itu (Nagata, 1981, hlm. 101). Mengenai pendatang dari pedalaman utara Sumatera di Semenangjung Melayu, Moor mencatat bahwa tahun 1830-an terdapat pelayan “batak” di Melaka (Moor, Notices of Indian Archipelago, Singapura, 1837, hlm. 117)

9 C de Haan, 1875, hlm. 38. 

10 Menurut sebuah tradisi tempatan, di Belawan dahulu terdapat sebuah keramat tempat pedagang dari pedalaman yang akan menjual kuda ke Pinang bersumpah bahwa ia tidak akan menipu sesamanya (lihat E. McKinnon, 1984, hlm.16). Di samping itu juga perlu dicatat bahwa nama tempat Belawan ini juga terdapat di dekat mata air sungai itu, di Dusun.


Bahan bacaan : Kolonialisme dan Etnisitas, Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut, Daniel Perret, KPG, 2010

No comments:

Post a Comment