30 November 2012

Toto Perjuma (Doa Petani - Farmers prayer)



Lagu "Toto Perjuma" ini dibawakan dengan alat musik tradisional dan modren serta dibalut irama jazz. Lagu "Toto Perjuma" diciptakan oleh  Jenda Bangun.

Tayangan ini diawali kata pembuka dari almarhum Ben Pasaribu diikuti "surdam" Anton Sitepu, vokal Jenda Bangun, "kecapi" Pulumun Ginting, "sarune - kibot" Hendrik Peranginangin dan "gendang" Winarto.

Lokasi di Barusjahe Tanah Karo Sumatera Utara.

28 November 2012

Karo Gendang

Gongs of the Karo Gendang


The Karo gendang sarunei is generally played by a sarunei, two gendang, and two gongs, a very large one called gung and a very small one called penganak, the latter being derived from 'anak', meaning 'child'. To name the smallest instrument within a set of instruments as anak/child is very common, not only within the Batak terminology but also in other Indonesian cultures. To give some examples of size, some gung measured 100, 68 and 60 cm in diameter, while the penganak measured 18, 16 and 15 cm.

Two examples of rhythmic patterns, generally used for slow and fast tempi respectively, are given here:


Karo Gendang

The music is played by two drummers on two gendang called gendang anakna ("child" gendang) and gendang indungna ("mother" gendang). The gendang anakna is actually a pair of drums, consisting of a main drum, baluh, and a small drum, gerantung ("hanging"), which is attached to the side of the larger drum. The Karojahe or 'lowlands Karo', whose drums are considerably larger, use as gendang anakna two main drums, merely turning the second one upside down as the lower head has a much smaller diameter. The musical function of the gendang anakna is to provide an accompanying or steady rhythmic pattern, with little or no variation. The second drummer plays the indungna, whose shape is the same as the main drum of the anakna pair. The function of this 'mother' drum is to improvise rhythmic sequences with great virtuosity. The playing of the gendang is called singanaki and singindungi respectively.

26 November 2012

Anak Desa Jadi Profesor, Profil Prof.Dr.Ir.Meneth Ginting, MADE


 
Prof.Dr.Ir.Meneth Ginting, MADE

CAWIR PURNABAKTI GURU BESAR

1. Anak Desa Jadi Profesor

Pak Meneth Ginting yang telah menjadi Guru Besar (Profesor) tahun 2002 dan dikukuhkan tahun 2003, lulus Sarjana (S1) dari Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), S2 dari Australian National University (ANU) Canberra dan S3 diperoleh dari Institut Pertanian Bogor.

Banyak jabatan yang telah dipegang Pak Meneth Ginting (lihat Curriculum Vitae), sebelumnya beliau pernah menjabat Ketua Survey Agro Ekonomi Indonesia (SAEI) Sumatera Utara, Penasehat Bappedasu, Risearch Fellow Asian Studies Australian National University (ANU) Canberra, Deputy Ketua Tim Pembangunan Desa Pantai Sumatera Utara, Ketua Lembaga Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) USU, Dekan Fakultas Pertanian USU dan Bupati Kabupaten Karo.

Jabatan beliau sekarang adalah : (1) Dosen Tetap Fakultas Pertanian USU, (2) Dosen Pascasarjana Agribisnis Fakultas Pertanian USU, (3) Dosen Pascasarjana Jurusan Perencanaan Wilayah dan Desa (PWD), (4) Dosen Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jurusan Ekonomi Islam, (5) Rektor Universitas Quality (d/h Universitas Karo-UKA), (6) Koordinator Dewan Pakar Badan Koordinasi Pembangunan Ekosistem Kawasan Danau Toba (BKPEKDT), (7) Anggota Ahli Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumatera Utara, (8) Anggota Pembina Penyuluhan Kabupaten Pakpak Bharat, (9) Anggota Yayasan Leuser International (YLI).

Catatan :
(6) dan (7) berdasarkan SK Gubernur Provinsi Sumatera Utara dan (8) berdasarkan SK Bupati Kabupaten Pakpak Bharat.

Saat ini Pak Meneth Ginting akan menjalani masa Purnabakti Guru Besar USU setelah umur beliau 70 tahun (15 Juli 2010) dengan pangkat Pegawai Negeri Sipil (PNS) : IV/E.

Gambaran usia lanjut mulai jelas terlihat : kaca mata tebal, rambut putih merata namun terlihat bahwa Pak Meneth Ginting tetap sehat dan semangat. Beliau secara rutin memeriksa kondisi kesehatannya. Rutinitas beliau tidak banyak berubah dalam beberapa tahun ini, kegiatan mengajar, memberikan konsultasi, ceramah dan lainnya. Satu hal yang patut menjadi contoh bahwa Pak Meneth Ginting selalu tepat waktu. Pernah beliau katakan bahwa waktu yang terkelola dengan baik tidak membuat kita terlambat. “Terburu-buru membuat kita stress, hasil kerja tidak maksimal, jalan keluarnya adalah ketepatan mengelola waktu”, kata beliau.

Sehari-hari beliau tetap melakukan olah raga teratur wai tan kung atau jalan pagi, membaca dengan rutin, makan teratur dan komunikasi dengan keluarga tetap terjalin harmonis. Mungkin dengan rutinitas inilah membuat Pak Meneth Ginting tetap sehat dan semangat.

Pak Meneth Ginting dilahirkan pada tanggal 15 Juli 1940 di Desa Bukit Karo Kecamatan Tiga Lingga Kabupaten Dairi Sumatera Utara. Putra pertama dari pasangan H. Imaddullah Panegoh Ginting dan Hj. Tetap Malem br Tarigan. Pak Meneth Ginting memulai pendidikan dasar yang dulu disebut Sekolah Rakyat di Desa Bukit Karo Tigalingga, SMP di Sidikalang dan SMA di Kabanjahe. Setelah tamat SMA, Pak Meneth Ginting melanjutkan pendidikan di Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Sumatera Utara dan tamat tahun 1966.

24 November 2012

Buku Telepon Brastagi (1949)

Telepon Brastagi
Kantor Brastagi - Kantor Cabang Kabanjahe

Edisi Januari 1949
Telah diperbarui 20 Desember 1948


Telefoongids Brastagi :


Kuda Terbaik Ada di Karo (1905)



Penunggang Kuda di Kabanjahe
       Karo Batak ruiters op Batakkers bij Kabandjahe
Date      1910-1920
Source  : Tropenmuseum
Author  Unknown

Angka-angka yang berasal dari tahun1905 :

Afd Simeloengoen en Karolanden: Kuda : 3200,  Sapi : 6300,  Kerbau : 8800

Onderafdeelingen Toba en hoogvlakte van Toba : Kuda :10000,  Sapi : 3400,  Kerbau :  7300

De Zuidelijke Batak Sipirok, Angkola, Mandaïling : Kuda : 2500, Sapi : 8000, Kerbau : 6600

Padang Lawas : Kuda : 1100, Sapi : 2300, Kerbau :  19600


Dengan budidaya yang masuk akal dan perawatan yang tepat, tidak akan hanya bertambah lebih besar (seperti banyak ternak, terutama di Batak Selatan dan Padang Lawas), tetapi juga berkembang biak lebih baik. Yang terakhir ini berlaku khususnya pada kuda-kuda. Dikembang biakkan keturunan yang unggul dan namun jumlahnya terus menurun.

Kuda-kuda terbaik dirawat oleh orang Karo, anak kuda (bibit) yang terbaik berasal dari Tanah Karo (Karolanden) dan masih menerima permintaan yang teratur dari Perkebunan Deli, dan juga di jual ke  Penang dan di Singapura.

Pernah terjadi wabah besar. Pada tahun 1902 jumlah kerbau dan sapi di Angkola berturut-turut 6982 dan 5632, tahun berikutnya angka tersebut sebagai menurun sebagai akibat dari wabah menjadi 2.842 dan 2.390.

Di Batak Utara, kerbau banyak dibutuhkan pada upacara meriah dan adat. Di Batak Selatan, kerbau  dipakai untuk menarik beban, sapi secara eksklusif untuk disembelih, kuda tak hanya sebagai hewan berpelana, tetapi sebagai binatang membawa beban, disebut "Pikoelpaarden'. 

Susu kerbau di Toba kadang diminum, dan ada keluarga misionaris Jerman yang membuatnya menjadi mentega mereka.

oleh :

M. Joustra.

Karo dalam Catatan : Neerlandia. Jaargang 13

Foto-foto dari catatan Belanda di dalam buku :
Neerlandia. Jaargang 13
sumber : Neerlandia. Jaargang 13. V/h Morks & Geuze, Dordrecht 1909

Sumber laman :  dbnl.org

 

Guru di sekolah-sekolah misi Tanah Karo. 
Barisan depan dan belakang adalah orang Karo. 
Para guru  yang di tengah adalah  orang Minahasa 
kecuali No. 4 adalah Guru dari Toba.
(Dicatat oleh misionaris E. J. van den Berg.)


Inlandsche onderwijzers op de zendingsscholen in het Karoland. De voorste en achterste rij
zijn Karo-Bataks. De onderwijzers in het midden zijn Minahassers, behalve No. 4 rechts. Dit is een
Bataksche onderwijzer uit Toba.
(Opgenomen door den zendeling E.J. van den Berg.)
Jembatan sementara di atas Laoe Biang di Kan Dibata (dataran tinggi Karo).
(Dicatat oleh misionaris : E. J. van den Berg.)


Tijdelijke brug over de Laoe Biang bij Kan Dibata (Karo-hoogvlakte).
(Opgenomen door den zendeling E.J. van den Berg.)
Rumah dari misionaris Boeloeh Awar (Tanah Karo) di Deli atas.(Sibolangit)
(Dicatat oleh W. Crans, asisten sebuah perusahaan tembakau.)


De woning van den zendeling te Boeloeh Awar (Karoland) in Boven-Deli.
(Opgenomen door wijlen den Heer W. Crans, assistent op een tabaksonderneming.)
Sebuah keluarga Karo
Een Karo-Bataksch gezin.
 Pagar Batu, orang Karo Doesoen (Deli).
Pagar Batoe, een Karo-Bataksch dorp in de Doesoen (bovenlanden van Deli).




Tari Karo dalam "Dances of The South Pacific"


Video ini adalah bahagian dari Film berjudul : "Dances of The South Pacific" (mulai pada menit ke 13.18). "Dances of The South Pacific" berdurasi 16.42.

Producer: Mrs. C. W. Hacker, Mrs. J. Shipley Dixon
Audio/Visual: silent, b&w


Tanggapan bang Juara Ginting di FB Group Jamburta Merga Silima :


  • Juara R Ginting Aku coba mereka-reka ini acara apa atau skenarionya apa. Akhirnya aku membuat dugaan bahwa ini bukan acara apa2 tapi atas permintaan pembuat film dibuatkan sebuah performance. Secara antropologis (antropologi visual atau antropologi pertunjukan) ini menarik bagaimana penduduk setempat di jaman tertentu merespon permintaan dari luar seperti halnya perekaman foto atau audio atau audio visual (bersambung)
    3 hours ago · Unlike · 2
  • Juara R Ginting Kelihatannya, tempo gendang yang dimainkan adalah Ngelingkah (Singarak-ngaraki atau Singarak-ngaraki Kemberahen). Gerakan tari pertama sepertinya mengikuti lagu Persentabin. Uniknya, hanya penari gadis muda belia itu yang melakukan sembah (bersambung)
    3 hours ago · Unlike · 2
  • Juara R Ginting Bagian ke 2 adalah adu silat. Uniknya bagi saya, dari sisi antropologi pertunjukan, ternyata Karo juga sudah sejak dulu mengetengahkan silat/ ndikkar sebagai seni pertunjukan unggulannya. Apakah ini sekedar begitu mode di jaman itu di mana-mana di Hindia-Belanda atau memang ada konsep sangat mendasar dalam kosmologi Karo sehingga silat menjadi pilihan penting untuk ditampilkan. Ingat, dokumentasi2 seperti ini sering dipandang oleh penduduk lokal di mana-mana sebagai pencerminan siapa mereka (sebagai suatu kebudayaan/ society yang unik). (bersambung)
    3 hours ago · Edited · Unlike · 2
  • Juara R Ginting Bagian ke 3 sepertinya tarian yang sekarang sering disebut gendang adat (giliran menari 1. sembuyak, 2. anak beru, 3. kalimbubu dan 4. senina). Boleh jadi ada simasu-masu. Dugaan saya, pengeditan film ini tidak didasarkan pendalaman atas bahan yang direkam. Sepertinya, banyak footage yang direkam tidak diikutkan (setelah melihat tampilan lengkap sebelumnya dari Polinesia ke Sumatra). (Terimakasih).
    2 hours ago · Unlike · 2

22 November 2012

Karo dalam Film Dances of The South Pacific








Producer: Mrs. C. W. Hacker, Mrs. J. Shipley Dixon
Audio/Visual: silent, b&w

Shotlist
Edited travelogue with narrative titles
"...taken from Mrs. Hacker's Travel films." (Later remarried, Mrs. J. Shipley Dixon).

Apia British Samoa (complete)
Nukalofa-Friendly Island (dance after Flying Foxes)
Fiji War Dance (from Fiji part)
Bali Temple Dance (after dancers dressing)
Sumatra Batak Dancers
Ceylon Devil Dance

21 November 2012

Dr. M. Amir dan Revolusi Sumatera Timur




Dr. Mohammad Amir: Tragedi Seorang Tokoh Pejuang Gerakan Kebangsaan Indonesia Di Sumatera Timur
Oleh : Harsja W. Bachtiar (Universitas Indonesia)

(Dikutip dari laman : Sejarahkita.blogspot.com)

Riwayat yang disampaikan di bawah ini adalah riwayat seorang pemuda Minangkabau yang bejiwa kebangsaan Indonesia dan dalam masa gerakan kebangsaan menjadi seorang cendekiawan dan tokoh politik di daerah Sumatera Timur bahkan ikut mewakili Sumatra dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan meletakkan dasar-dasar negara Republik Indonesia di Jakarta. Akan tetapi akhirnya, antara lain, karena istrinya orang Belanda dan dia sendiri kemudian tidak dapat mengendalikan semangat perjuangan menggelora dari penduduk yang ikut dibangkitkannya dalam usaha mengadakan perombakan tatanan masyarakat di daerah Sumatera Timur, tokoh ini terpaksa meminta perlindungan, pada pihak lawan, penguasa Inggris dan Belanda di Medan, yang dapat ditafsirkan sebagai pengkhianatan terhadap bangsanya.

Mohamad Amir lahir tanggal 27 Januari 1900 sebagai anak tunggal sepasang suami-istri yang berdiam di Nagari Talawi, suatu perkampungan di pinggir sungai Ombilin dekat kota pertambangan batubara Sawahlunto di Sumatera Barat. Ayahnya ialah M Joenoes Soetan Malako, yang meninggal di Talawi tahun 1940, sedangkan, ibunya yang bagi orang Minangkabau, sesuai dengan adat yang menentukan keanggotaan dalam keluarga atas dasar garis keturunan ibu, adalah lebih penting daripada ayahnya, ialah Siti Alamah yang meninggal di Jakarta, 1958. Siti Alamah, ibunya, adalah anggota dari Suku Mandaliko di Nagari Talawi, sehingga Moh. Amir pun adalah juga anggota Suku Mandaliko.

Pada waktu masih berusia anak sekolah, M. Amir dibawa oleh abang ibunya, Mohammad Jaman gelar Radjo Endah, seorang guru yang dipindahkan ke Palembang, ke kota di tepi sungai Musi. Selain membawa istri, anak-anaknya, dan M. Amir, guru Jaman juga membawa dua kerabat muda lain yang kurang lebih seusia dengan M. Amir, yaitu Mohamad Jamin dan Djamaloedin yaitu adik sebapak dari guru Jaman tapi berlainan ibu. Ayah guru Jaman bernama Osman gelar Baginda Chatib dan mempunyai beberapa istri. Guru Jaman, yang lahir tahun 1878, adalah anak dari istri yang bemama Hadaniah; Moh. Jamin, yang lahir tahun 1903, adalah anak ketiga dari istri bernama Saadah; sedangkan Djamaloedin, yang lahir tahun 1904, adalah anak tunggal dari istri yang bemama Sadariah.

Di Palembang M. Amir belajar sebagai siswa Hollandsch Inlandsche School (HIS), sekolah dasar yang diselenggarakan terutama bagi anak-anak pribumi, tetapi sebelum tamat HIS di Palembang, M. Amir pindah ke Batavia (kini: Jakarta) di sana ia meneruskan pendidikan dasarnya di Europeesche Lagere School (ELS), jenis sekolah dasar yang diselenggarakan terutama bagi anak-anak Belanda, sampai tamat sekolah dasar tahun 1914.

M. Amir meneruskan studinya di jenjang pendidikan menengah tingkat pertama pada Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), di sana ia tamat belajar tahun 1918 untuk kemudian melanjutkan pendidikannya pada School tot Opleiding van Indische Artsen (Stovia), sekolah pendidikan calon dokterr bagi pemuda-pemuda pribumi, juga di Batavia. Tanggal 8 Desember 1917 di Batavia seorang siswa di STOVIA yang berasal dari Sumatra Timur, Tengkoe Mansoer, bersama M. Amir dan sejumlah siswa lain yang berasal dari pulau Sumatra mendirikan suatu perhimpunan pemuda yang berasal dan pulau Sumatra, perhimpunan yang dinamakan Jong Sumatranen-Bond (JSB), mengikuti contoh Jong Java, perhimpunan pemuda yang berasal dari Jawa yang telah didirikan dua tahun lebih dahulu. Para pemuda Sumatra inipun bergabung untuk bersama-sama berusaha mempersiapkan diri sebagai penggerak upaya memperbaiki taraf kehidupan penduduk di daerah asal mereka.

Dalam waktu satu tahun, menurut majalah Pemoeda Soematra yang mulai diterbikan oleh Pengurus JSB sejak 1918 dengan pemuda M. Amir sebagai redaktur, jumlah anggota perhimpunan ini telah menjadi sekitar 500 orang yang tergabung dalam afdeeling (cabang) perhimpunan di Jakarta, Bogor, Serang, Sukabumi, Bandung, Purworejo, Padang dan Bukittinggi dengan cabang di Jakarta serta Padang yang paling banyak anggotanya.

19 November 2012

Trailer Game Inganta Landek

Game "Inganta Landek" oleh Dwi Agnes Natalia Bangun, S. Ds.
Program Magister Game Animasi dan Digital Media
Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB 2011


Selengkapnya dapat dilihat di laman berikut : Karo Dance Game

16 November 2012

Karosiadi 1940


Potongan video di atas adalah wajah Karo dalam Filem : Gripsholm Cruise 1940 II (1940). Filem ini adalah film bisu (tanpa suara). Selengkapnya di : Karo dalam filem Gripsholm Cruise (1940).

O, Taneh Karo Simalem (Rudang Group)




O, Taneh Karo Simalem, dinyanyikan oleh Rudang Group. Syair/lagu : Djaga Depari.

Lukisan-lukisan di dalam video ini adalah karya P.A.J. (Pieter Adriaan Jacobus) Moojen yang dilukis pada tahun 1916. (lihat di link berikut : Pieter adriaan jacobus melukis karo)

06 November 2012

Selamat Ginting, Marhaenis Dari Tanah Karo



Penulis : Hiski Darmayana*

Tanah Karo, sebagai wilayah yang menjadi basis kekuatan politik Marhaenis, pernah melahirkan seorang tokoh yang konsisten memperjuangkan ideologi Marhaenisme dalam tiap langkah perjuangannya. Sejak era kolonial Belanda hingga zaman de-Soekarnoisasi Orde Baru, tokoh yang satu ini tetap teguh berjuang dibawah ‘panji’ Marhaenis. Selamat Ginting, nama tokoh ini, yang juga dikenal dengan nama Kilap Sumagan.

Lahir pada 22 April 1923, Selamat Ginting telah memiliki concern yang besar terhadap dunia pergerakan nasional ketika  masih berusia remaja. Ketika beliau  sedang menempuh pendidikan menengah di zaman kolonial (HIS), ia telah mengamati kiprah berbagai organisasi pergerakan yang bertendensi nasionalis kerakyatan, seperti Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), Partai Indonesia (Partindo), dan Gabungan Politik Indonesia (GAPI).

Setamatnya dari HIS, Selamat  meneruskan pendidikan di Sekolah Ekonomi  Kayutanam, Sumatera Barat.  Pada saat yang bersamaan, sekolah tersebut tengah dipimpin oleh S.M. Latief yang juga merupakan  pemimpin surat kabar Resensi. Surat kabar ini terkenal karena memuat berbagai tulisan resensi yang dibuat oleh tokoh-tokoh pergerakan terkemuka saat itu, antara lain Bung Hatta.

Selamat, yang memang telah memiliki minat besar pada dunia politik, turut pula menyumbangkan satu tulisan yang mengulas buku politik karya Roestam EffendiVan Moscow naar Tiflis pada surat kabar tersebut. Buku tersebut ia akui sebagai buku politik pertama yang dibacanya. (Buku Van Moscow naar Tiflis dapat dibaca pada tautan berikut ini : Marxists.org/nederlands/effendi/1937/ )

Setelah tuntas mengenyam pendidikan di Sekolah Ekonomi Kayutanam,  Selamat pulang ke tanah Karo. Tak lama kemudian, Perang Pasifik meletus dan Jepang menginvasi Indonesia. Hal itu menandai berakhirnya era penjajahan kolonialis Belanda dan dimulainya masa pendudukan Jepang di nusantara, termasuk Tanah Karo.

Selamat pun memutuskan untuk turut berjuang menghadapi penjajah baru dari Asia Timur tersebut, dengan bergabung ke  partai yang dibentuk oleh Bung Hatta, Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Namun, pemerintah Jepang yang memang melarang segala kegiatan berbau politik segera membubarkan partai tersebut. Setelah pembubaran itu, Selamat dan kawan-kawan pun  membentuk Pusat Ekonomi Rakyat (Pusra) guna membantu menggerakan perekonomian rakyat pada masa itu. 

02 November 2012

Catatan Jules Claine Ketika Mengunjungi Karo di Tahun 1890


Catatan perjalanan Julies Claine ke Tanah Karo pada tahun 1890
Dalam buku Seaman Missions Downs Work Ship Batak-Karo Men Women Village oleh Jules Claine halaman 335 yang diterbitkan pada tanggal 12 September 1891 diceritakan sekilas perjalanan Jules Claine ke daerah Tanah Karo. Kala itu Jules Claine masih berumur 35 tahun. Tulisan berikut ini menjadi gambaran keadaan masyarakat Karo saat itu :



Julies Claine meninggalkan Paris di bulan Mei 1890, dan tiba di Singapura sebulan kemudian. Lalu ia menuju Pulo Penang dan mengurus perjalanan untuk menuju Sumatra. Ia tiba di Deli. Lalu ia menghubungi penguasa Belanda kala itu untuk mendapatkan gambaran kehidupan masyarakat lokal dan memutuskan memasuki dataran tinggi Tanah Karo. Mula-mula ia menuju Djinkem. Ia menunggu beberapa hari sampai kurir yang telah berangkat kembali. Ia menanti ijin memasuki dataran tinggi Karo, dan tentunya adanya jaminan keselamatan selama berada di wilayahnya. Pembawa pesan akhirnya kembali bersama beberapa orang yang akan menjadi pembawa barang. Ada beberapa berita dari yang mengkhawatirkan dari dataran tinggi akan adanya sebuah gerombolan dari Aceh dan Gayo yang sedang menuju ke arah Danau Toba. 

"Meantime we had some alarming news from upland that a band of brigands, acheneese and gayioux, were attempting to force the pass on the opposite of batak country, toward lake Toba, for plunder or conquest. The Acheen people, being inveterate enemies of the Dutch, would take vengeance on the Bataks for their friendly dealings with the Dutch, from whom they buy some firearms and ammunitions"


Pada hari ketiga mereka tiba di Buluh Hawar dan dengan sebuah ijin yang tertulis di sebuah bambu mereka dipersilahkan masuk. Pagi harinya mereka memulai perjalanan yang lebih berat, menembus hutan belantara dan terjalnya tebing pegunungan. Selama 6 jam mereka harus bekerja keras dan berhati-hati.

Berikut ini lanjutan catatan perjalanannya :


The ascent was very toilsome and difficult, the steep path is encumbered with huge rocks in some places, with dense forest and trees of immense size, whose inter wined roots, as well as the tangled climbing plants, were a troublesome impediment; and with pools pestilential water. We were all much fatigued before gaining, in six hours, the summit of the pass; but the descent beyond was a dangerous labyrinth of narrow passages, the huge trees often standing so close together that a corpulent man could hardly squeeze his body through between them.

The chief who was my guide showed me the place where the Bataks would form an ambush to stop an enemy, and where, he said, more than a hundred and fifty men had been killed at once. I felt that I should have little chance of escaping it alive. The descent occupied two hours: then the jungle was succeeded by a more open forest and soon I was on the wide plateau which I so much desired to reach.

................. 

But at last, I got inside the kampong and was surrounded by the whole population, eager to see the stranger. Mats were spread on the ground, and a short of the rude arm-chair was placed for my seat, while the natives squatted on the mats. The chief bade me welcome, and I felt quite at ease with my Batak hosts.

I stayed until the Sibrayac (Sibayak), the great ruling chief of the country, should allow me to go farther. He came in person under taking to conduct me to his kampong situated at the other extremity of the plateau, near Lake Toba.

01 November 2012

Tradisi Mengikir Gigi


Meißeln, Feilen und Schwarzfärben der Frontzähne bei den Batak in Sumatra / Indonesien
Von Achim Sibeth
Karo-Frauen mit Ohrschmuck padung-padung, Indonesien, Sumatra, Karo-Hochfläche, um 1910. Köln: Rautenstrauch-Joest-Museum, Historisches Fotoarchiv. Fotograf unbekannt
 Das Meißeln, Feilen und Schwarzfärben der Frontzähne war bei mehreren ethnischen Gruppen Indonesiens früher üblich. Dieser Brauch ist unter anderem von den Bewohnern der westlich vor Sumatra liegenden Inseln Siberut und Mentawai sowie den Toraja auf Sulawesi bekannt. In diesen Regionen wurde diese „Zahnbehandlung“ fast oder ganz aufgegeben, auf Bali ist Zahnfeilung hingegen bis heute weit verbreitet.

Auch bei den Karo- und Toba-Batak wurden früher Zähne gemeißelt. Bereits Ende des 19. Jahrhunderts ließen nur noch wenige Batak diese schmerzhafte Prozedur im Geheimen (Heyting 1897: 295) über sich ergehen – nicht mehr jedoch während einer großen Initiationszeremonie, zu der die ganze Verwandtschaft eingeladen wurde. Hintergründe und Ablauf dieser Zeremonie haben die Batak inzwischen vergessen. Wir sind daher auf Berichte von Missionaren, Reisenden oder Kolonialbeamten angewiesen.

Eine der frühesten Darstellungen stammt vom Frankfurter Museumsgründer Bernhard Hagen (1884). Zu seiner Zeit waren das Meißeln und Schwarzfärben der Zähne bei den Karo noch weit verbreitet. Da Hagen als Kolonialarzt an der Ostküste nur wenig Einsicht in die Kultur der Karo bekam, blieben ihm religiöse und soziale Hintergründe verborgen. Den „Operateur“ beschreibt er als „Zahnkünstler“, nicht jedoch als religiösen Spezialisten guru pande kiker . Den speziellen Termin und Zweck der Zahnbehandlung realisierte er ebenfalls nicht. Hagen hatte offensichtlich das Zahnmeißeln nicht als Initiationsritus begriffen. Und so beschreibt er das Zahnmeißeln als „gesetzlich nicht vorgeschrieben“, als „traditionelle Geschmacksache, die im Belieben des Einzelnen steht“ (1884: 219). Nur bei den Frauen sei eine einheitliche Behandlung der Frontzähne üblich. Eher zufällig würden bei beiden Geschlechtern die Eckzähne mitbearbeitet. Anders war es jedoch bei den Toba, die sich neben den Schneidezähnen auch die Eck- und ersten Backenzähne abmeißeln und feilen ließen. „Wer sich die Zähne noch nicht hat abschlagen lassen, wird verhöhnt wegen seiner Hunde-, Tiger- oder Bärenzähne.“ (Winkler 1925: 31).
  
Große Ohrgehänge padung-padung. Silber. Karo-Batak. Slg. Rautenstrauch-Joest-Museum Köln. 
Foto: A. Sibeth
Bei den Karo beginnt die Zahn-Zeremonie erkiker mit einem Festmahl im Haus des Dorfchefs. Jungen und Mädchen sind in beste Stoffe gekleidet. Sie sitzen in der Hausmitte in zwei Kreisen nach Geschlechtern getrennt. Nach dem Essen laufen die Initianden im Gänseschritt, die Mädchen voraus, zum Badeplatz. Anhaltendes Gewehrfeuer, mit dem böse Natur- und Ahnengeister ( hantu, begu ) vertrieben werden sollen, begleitet sie auf ihrem Weg. Die Mädchen haben zuvor ihre schweren Silber-Ohrgehänge padung-padung für die rituelle Reinigung ( erpangir ) am Badeplatz abgelegt. Nach der Reinigung an den nach Geschlechtern getrennten Badeplätzen gehen alle unter erneutem Gewehrfeuer zurück ins Dorf. Dort wurde in der Zwischenzeit auf dem Dorfplatz mit Matten und Kopfkissen der Platz für die Zahnmeißelung vorbereitet.

Zwei Meißel mit Holzetui. Karo-Batak. Slg. MdW. 
Foto: A. Sibeth
Hier breitet nun der rituelle Spezialist seine Werkzeuge aus und stellt die notwendigen Ingredienzien zusammen. Aus magisch wirksamen Pflanzen beziehungsweise Pflanzenteilen bereitet er die Medizin tawar . Er schneidet aus geschälten Ästen des Zitronenbaumes daumenlange Stücke, die den Initianden bei der Zahnmeißelung als Beißholz dienen und die Kiefer auseinander halten sollen (Guillaume 1903). Für den Farbbrei, mit dem die Zähne nach dem Meißeln und Feilen schwarz gefärbt werden, verwendet er verkohltes Harz des badja -Baumes. Zum Abmeißeln der Zähne benutzt er scharf zugeschliffene Meißel aus Eisen, einen handlichen Schlägel aus Holz oder Knochen sowie eine Metallfeile. Letztere wurde von den Küstenmalaien übernommen und ersetzt die früher verwendeten kleineren Meißel beziehungsweise Schleifsteine.