07 December 2012

Jalan Organis, Penyelamat Jeruk Karo

Serangan lalat buah di kebun-kebun jeruk petan di Karo
Sumber gambar : Beritadaerah.com

Lantaran gagal panen terus-menerus akibat serangan lalat buah (bactrocera dorsalis), banyak kebun-kebun jeruk di tanah karo ditelantarkan pemiliknya. Tapi, satu pekebun di Desa Salit terus bersemangat merawat kebunnya dengan cara yang ia yakini sebagai jalan penyelamat jeruk Karo. Jalan organis!


Ir. Usaha Barus, namanya. Seorang pekebun buah yang oleh konsumen di Pulau Jawa disebut “Jeruk Medan”. Seperti para pekebun lainnya, di kebunnya gampang dijumpai jeruk yang jatuh busuk setelah terserang lalat buah. Padahal sejumlah upaya telah dilakukan untuk mengatasi serangan jenis serangga ini.

Salah satunya dengan memasang perangkap. Baik perangkap berupa lembaran plastik berwarna oranye diolesi perekat maupun perangkap dari botol kemasan berumpan metil eugenol. Kedua perangkap ini menggandul di setiap pohon. Pada masing-masing perangkap, berpuluh-puluh lalat buah mati terjebak.

Meski banyak lalat buah terperangkap, serangan lalat buah tak kunjung reda. Sesekali, lelaki berusia 51 tahun ini menyemprotkan pestisida kimiawi buatan pabrik. Tapi tak terlalu efektif. Diakuinya, tingkat keberhasilan penggunaan pestisida kimiawi hanya sekitar 10 %.

Upaya pengendalian organisme pengganggu tanaman atau biasa disebut hama mesti disasarkan pada memutus daur hidup sang “pengganggu”. Untuk memutus daur lalat buah, Usaha Barus rajin mengumpulkan buah-buah jeruk yang berjatuhan lalu memasukkannya ke dalam kantung-kantung plastik. Setelah penuh, plastik diikat agar kedap udara. Larva atau belatung dari akan keluar dari dalam buah jeruk, lalu setelah sehari semalam dalam kondisi kedap udara, larva-larva tersebut mati.


Jeruk-jeruk busuk itu kemudian dimanfaatkan untuk dijadikan kompos. Metode pengomposannya sederhana. Dikubur ke tanah secara berlapis antara lapisan jeruk-tanah-jeruk-tanah lalu diberi bio-aktivator.

Kombinasi teknik pengendalian lalat buah yang dilakukan Usaha Barus tak berhasil menekan serangan lalat buah hingga nol persen. Tapi tetap memberi keuntungan bagi sang pekebun. Usaha Barus mampu memetik hasil panen 15 – 20 ton per hektar per tahun. Angka yang hanya separuh dari hasil panen ideal tiap tahun, yaitu 30 – 40 ton per hektar. Meski demikian, hasil panen jeruk dari kebunnya jauh lebih baik ketimbang para pekebun lain yang hanya berkisar 5 – 10 ton per hektar per tahun.

“Banyak pekebun yang gagal panen hingga 90%. Biaya produksi jeruk bisa mencapai 40 ton per hektar tiap tahun. Dengan hasil panen sekitar 5 ton dan harga jual lima ribu rupiah per kilogram, bisa ketahuan berapa kerugian yang dialami pekebun jeruk,” urai Usaha Barus dengan mimik prihatin. “Akibatnya banyak pekebun memilih menelantarkan kebun mereka, takut biaya produksi menguap tanpa hasil. Pilihan lain, menyisipkan tanaman pengganti berupa kopi atau kakao.”

Angka kerugian yang diderita petani jeruk sekabupaten Karo memang fantastis. Menurut pekebun yang menjabat Ketua organisasi Masyarakat Jeruk Indonesia Sumatra Utara ini, di tahun 2011 saja kerugian petani jeruk karo mencapai 1 triliun rupiah. Hampir lipat dua dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Karo yang 638 milyar rupiah. Sedang anggaran penanganan lalat buah yang disiapkan pemerintah kabupaten Karo selama tahun 2011 hanya 1,25 miliar rupiah.

Solusi atas bencana lalat buah di tanah Karo, menurut Usaha Barus perlu ada gerakan memutus daur hidup jenis hama ini secara serentak. Supaya efektif aktif dia mengharapkan pemerintah kabupaten menerbitkan peraturan pemerintah berupa menyeru seluruh petani untuk melakukan aksi pemutusan daur hidup lalat buah secara serentak dan massal. Tanpa usaha serentak, daur hama tidak terputus. Kebun yang diterlantarkan pun justru berpotensi menjadi inang hama. Jika kondisi ini tak berhasil diatasi, lama-lama identitas Karo sebagai sentra jeruk hanya tinggal nama.”
Usaha Bangun Barus, ketua Masyarakat Jeruk Indonesia
Sumber foto : Sorasirulo.net
Organis Lebih Ekonomis
Berbagai usaha mengendalikan hama lalat buah yang dilakukan Usaha Barus mengantarkannya pada keinginan membuat demplot jeruk organis. Dari 12 hektar kebun jeruk Usaha Barus di Desa Salit Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo, dibangun 4 demplot dengan total luas 4 hektar. Masing-masing demplot disekat dengan jaring paranet dan bagian atas dibiarkan terbuka.

Di sana ia menerapkan pola budidaya tanpa bahan kimia sama sekali. Selain menggunakan perangkap hama, dia menggunakan pestisida nabati yang diraciknya sendiri dari bahan-bahan alami yang gampang didapat. Pada sela-sela tanaman jeruk, rumput dibiarkan tumbuh sebagai mulsa hidup. Selain sebagai penutup tanah dan agar mikroba yang bermanfaat tetap mudah berkembang-biak, keberadaan rumput juga menjadi tempat berkembang musuh alami hama.

Diakuinya, biaya produksi system organis sedikit meningkat. Salah karena biaya pembuatan sekat jaring. Tapi hasilnya memuaskan. Panen meningkat 20 %. Ditambah lagi buah tekad Usaha Barus telah membuat sebuah kelompok supermarket internasional yang memiliki waralaba di Indonesia meliriknya. Mereka berminat menampung jeruk organis produksi kebunnya dengan harga jual lipat dua harga biasa.

Tapi Usaha Barus masih ingin berbuat lebih, menyelamatkan Karo sebagai sentra jeruk. Sebagai konsultan pertanian ia telah melakukan sosialisasi sistem pertanian organis kepada sekitar 500 petani. Sebanyak 25 petani di antaranya mulai  memilih jalan organis sebagai jalan penyelamat jeruk karo.









[Syamsul Asinar Radjam; praktikus pertanian di Sukabumi]

No comments:

Post a Comment