19 November 2011

Padung-padung

Perhiasan perempuan Karo jaman dulu salah satunya adalah bernama "Padung-padung." Anting-anting yang terbuat dari perak dan terkadang emas ini panjangnya berkisar 15,5 cm. (sumber klik) dan beratnya berkisar 2 Kg (sumber klik). Namun karena disangkutkan juga ke tudung atau kain penutup kepala, maka beban telinga jadi berkurang. Berikut foto-foto serta pemakaiannya : 








17 November 2011

Video : "Mencangkul" di Tanah Karo (1925)


Persiapan lahan tanah dengan menggunakan tongkat runcing.
Primitieve oorspronkelijke grondbewerking met puntige stokken



Bij de Bataks was een groot deel van de bewerking van de (sawah)gronden in handen van de vrouwen. De tamelijk dichtbevolkte Batakhoogvlakte was al in de 19e eeuw grotendeels ontbost, zodat ladangbouw er niet meer mogelijk was. De rijst teelt werd hier dan ook grotendeels op sawahs bedreven. Voor grondbewerking had men vaak buffels (karbouwen) die een ploeg trokken of de al natte grond met hun poten tot een gelijkmatige brei omwoelden. Waren er geen buffels (of waren de regens laat), dan werd de grond met de hak bewerkt. Op Sumatra sprak men van 'tjankollen' (van cangkul), op Java (meestal) van 'patjollen' (pacul). (P. Boomgaard, 2001).
Tjangkollen door vrouwen, Karo-Hoogvlakte
date : 1914-1919
Source : Tropenmuseum

14 November 2011

Foto Berwarna Karo Siadi (1930)

Bila selama ini kita selalu menemukan foto-foto hitam putih akan keberadaan masa lalu masyarakat Karo, maka kali ini dapat dilihat dalam foto-foto yang berwarna. Tehnik untuk menghasilkan foto berwarna awalnya dikenal dengan sebutan Autochrome process. Dan teknik ini telah ditemukan sejak tahun 1907 walau dengan biaya mahal dan warna belum begitu sempurna.

Dalam majalah National Geographic Febuari 1930, ditemukan foto-foto berwarna masyarakat Karo yang dihasilkan dengan memakai lensa positif Autochrome oleh W. Robert Moore. Berikut foto-foto dan keterangannya :

A young Karo woman sits on a rock, dressed in traditional clothing.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  W. ROBERT MOORE/National Geographic Stock


Dignity distinguishes the Karo Girl.
This young woman has a clear complexion, large brown eyes, and regular features, but her mouth has been marred by the chipping or filing of her teeth to the level of her gums. She wears a costume of homespun, with a huge silver earring held in place by a point of her padded cap.


Karo Ruler of Malayan Stock, Poses Holding a Wooden Tool 
by W. Robert Moore

13 November 2011

Karo Tahun 1920 dalam Majalah National Geograpic (bagian 3)


A Sumatran family stands outside their large communal house.
Location:              Kampong Kinalang, Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
Perhatikan atap jerami tertambat, membangkitkan ingatan vila-vila batu di Swiss. Banyak rumah di desa-desa Sumatera berkarakter komunal, tiga atau empat keluarga yang tinggal di tempat tinggal yang sama. Di tempat-tempat di mana penduduk asli telah melakukan kontak dengan Belanda, interior rumah mereka tanpa peralatan modren, seperti tempat tidur, bantal, dan kanopi. Namun rumah-rumah ini lebih nyaman dibandingkan dengan setiap orang lain di Hindia Belanda.


Note the means by wich the thatched roof is anchored, awakening recollections of the stone-weighted chalets of Switzerland. many of the houses in Sumatran villages are communal in character, three or four families living in the same dwelling. In places where the natives have come in contact with the Dutch, the interiors of their homes are not without modren conveniences, such as beds, pillows, and canopies. These houses are more comfortable than those of any other people in the Ducth East Indies.

Native houses in Sumatra stand on stilts.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
 All of the native houses of Sumatra (KARO) are perched on stilts, usually about six feet high.

This practice in home building suggest to some students of ethnology the thought that sumatrans were originally a maritime  and water loving people, who built their houses on posts in the water. They gradually migrated inland, first up rivers and streams, and finally into the interior.

A view of a communal houses in a Sumatran village.
Location:              Karo-Batak, Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock

Boys watch the grain fields and trigger a device when birds appear.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock

A woman pounds grain with native Sumatran tools.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock

Karo Tahun 1920 dalam Majalah National Geographic (bagian 2)


Perempuan membantu membangun
Women help build a structure around a Sumatran (KARO) village.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock

Seorang perempuan muda Sumatera (KARO) membawa sebuah kemasan di kepalanya.
A young Sumatran (KARO) woman carries a bundle upon her head in the street.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
Ibu muda Sumatra (KARO) selalu mengenakan anting-anting perak.
Much significance attaches to the wearing of earrings in the island. Young girls wear them or not, as they choose. Upon marriage the bride must wear the big silver buttons, much after the fashion of our wedding rings. After the birth of the first child or when five years have elapsed, she must remove them. The sagging, buttonless ears of the old women are among their ugliest features.


A Sumatran (KARO) woman walks along her bamboo porch.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
Berbeda dengan kebiasaan, lantai teras ini terbuat dari bambu. Lantai sebagian besar rumah menggelayut di tengah. Atap yang dari rumbia, terbuat dari atap daun kelapa.

Contrary to the custom, the floor of this porch is made of whole bamboo poles rather than the split pieces. The floors of most of the houses sag in the middle. The roofs are of thatch, made of the leaves of atap palm. 

Karo Tahun 1920 dalam Majalah National Geographic (bagian 1)

Majalah National Geographic pernah memuat tulisan, "By Motor Through The East Coast and Batak Higlands of Sumatra" yang ditulis oleh Melvin A. Hall. Majalah ini adalah volume XXXVII Januari 1920.  Melvin menembus Sumatera menuju Dataran Tinggi Tanah Karo dengan sepeda motornya.

Berikut ini 28 foto yang dimuat dalam edisi tersebut. Foto-foto ini adalah hasil jepretan Melvin A. Hall sepanjang perjalanannya, berikut urutan fotonya dan beberapa kalimat tanggapan Melivin A. Hall :
Majalah National Geographic volume XXXVII Januari 1920.
A Sumatran caravan makes its way through the highlands
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
Iringan angkutan memasuki dataran tinggi, di latar belakang terlihat Gunung Sibayak yang merupakan salah satu gunung berapi. Jalan yang baik hampir tidak dikenal di wilayah sentral sumatra, tapi sepanjang kedua pantai timur dan barat ada dapat ditemukan jalan raya seperti ini, mobil dan motor tidak lagi membangkitkan rasa ingin tahu penduduk asli sumatra. Hanya ada sekitar 200 mil jalur kereta api di pulau ini.

Sebuah mobil melaju melalui hutan jati.
A car drives through a teak forest.
Location :              Near Medan, Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
Mengemudi melalui hutan jati di dekat medan, sebuah pelabuhan penting di pantai timur laut Sumatra.

Pemandangan Gudang pengeringan untuk memproduksi Tembakau Sumatra.
 A view of drying sheds for producing Sumatran tobacco.
Location:              Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
Gudang pengeringan tembakau Sumatera terkenal di dunia. Bangunan-bangunan atap jerami  itu tidak lagi digunakan untuk tembakau, dan lahan yang terlihat datar itu telah ditanam di atasnya pohon-pohon karet, yang sedang ditanam secara luas saat ini.

Dua perempuan Batak membahas berita di pasar.
Two Battak women discuss news at the town market.
Location:              Karo-Batak, Sumatra, Indonesia.
Photographer:  MELVIN A. HALL/National Geographic Stock
A little gossip now and then is relished even by primitive women : at a Karo market.

11 November 2011

Upacara Muncang di Dusun Namo Rindang, Kec. Sibiru-biru, Kab. Deli Serdang


Oleh Cox Haleluya

Dusun Namo Rindang, Desa Mbarue, Kecamatan sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang mengadakan ritual muncang yang diadakan di Balai Desa Mbarue pada hari Jumat (28/10/2011).

Acara Muncang ini merupakan sebuah upacara ritual yang dilakukan sebagai wujud penghargaan kepada leluhur kampung dan juga sebagai ajang membersihkan kampung dari roh-roh jahat. Kegiatan ini dilakukan warga setelah mengadakan rapat desa karena adanya seorang warga yang mengaku mendapat perintah dari leluhur mereka melalui mimpi agar melakukan upacara ritual ini. Mereka menamakan leluhur mereka tersebut dengan sebutan Datuk.

Sebelum upacara dimulai warga terlebih dahulu membersihkan makam leluhur yang terletak di kawasan desa tersebut. Setelah itu warga bersama-sama menuju makam dan mengelilingi makam sambil menarikan dikkar, sebuah tarian masyarakat Karo yang gerakannya seperti gerakan silat dan dipimpin oleh 2 orang guru, sebutan bagi seseorang yang menjadi mediator antara roh leluhur dengan masyarakat. Selama kegiatan berlangsung musik tradisional Karo selalu mengiringi, karena menurut mereka musik merupakan sebuah syarat agar ritual ini dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

Kuta Kalak Karo

09 November 2011

Pengangkatan Sibayak Sarinembah

Pengangkatan Sibayak Sarinembah, November 1926.
Sumber foto : Tropenmuseum

Tamu dari Eropah saat pengangkatan Sibayak Sarinembah
Tamu pesta dengan latar belakang gunung Sinabung
(Feestgangers tijdens de benoeming van de Sibayak van Sarinembah,
met op de achtergrond de vulkaan Sinabung)
Seorang pawang hujan selama perayaan untuk menandai pengangkatan Sibayak Sarinembah
(Een regenbezweerder tijdens de feesten ter gelegenheid van de benoeming van de Sibayak van Sarinembah)
Pidato oleh inspektur upacara saat Pengangkatan Sibayak Sarinembah.
(Toespraak van de controleur tijdens de benoeming van de Sibayak van Sarinembah)

Perkawinan Putra Sibayak Lingga

Perkawinan Putra Sibayak Lingga, 18 April 1927.
Sumber foto : Tropenmuseum


Saat pernikahan  ditampilkan si Gale-gale dari Toba
Tijdens het huwelijksfeest van de zoon van de raja van Lingga geven marionetten uit Toba een voorstelling,
Karo, Noord-Sumatra
Een boeienkoning danst tijdens het huwelijksfeest van de zoon van de raja van Lingga, Karo, Noord-Sumatra
Guru-guru Karo dengan tongkatnya di pernikahan anak Sibayak Lingga
Karo-goeroe's met toverstaven geven een presentatie tijdens het huwelijksfeest van de zoon van de raja van Lingga, Karo, Noord-Sumatra
Pa Sendi dan keluarga berada dalam panggung/tenda khusus
 Het huwelijksfeest van de zoon van de raja van Lingga wordt gevierd in een bruiloftstent,
waarin het bruidspaar Pasendi in de opening is te zien, Karo, Sumatra
Pa Sendi, Sibayak Lingga berserta istri dan keluarga
Date : 1914-1919
Source  : Tropenmuseum
Author  : T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer).

Peran Pa Mbelgah, Pa Sendi hingga Pa 'Kelewet

Pada akhir abad ke-19, orang terkemuka dari pedalaman Pesisir Timur adalah pemimpin-pemimpin tradisional yang terkenal berkat wewenang dan ketangguhan bersenjata mereka. Ketika Kruijt melakukan perjalanan eksplorasi untuk tinggal di Dusun tahun 1890, penduduk Buluh Hawar berpikir bahwa ia pasti akan menemui Pak Mbelgah, (1) sibayak Kabanjahe.

Reputasi Pa Mbelgah sebagai pria kuat, kokoh, berani, pandai memimpin dan bertindak, tampaknya sudah terkenal dari Dusun sampai urung Tran di dataran tinggi, di kaki gunung Sinabung. Kemasyhurannya ini terutama diperoleh berkat kemenangan yang baru didapatnya atas sebuah pasukan dari Aceh. Ia dikabarkan telah membunuh dengan tangannya sendiri empat orang Aceh, satu diantaranya seorang tengku.(2) (Silahkan baca tulisan lainnya tentang Pa Mbelgah Klik)

Ketika dataran tinggi di utara Danau Toba dimasukkan dalam wilayah pemerintahan kolonial tahun 1907, tampaknya sibayak Lingga, Pa Sendi, adalah yang paling terlibat dalam kerjasama dengan pemerintahan kolonial untuk membangun dataran tinggi. Anak Tempas Raja ini menandatangani “Pernyataan pendek” (Korte Verklaring) bulan September 1907. Kecerdasan, kharisma, kemajuan ekonomi demi kesejahteraan wilayahnya, dengan cepat menghantarkannya menjadi pemimpin setempat yang terpenting di seluruh onderafdeeling Karolanden. Untuk mempertahankan wewenangnya di hadapan orang yang dipandang arogan dan brutal, ia berusaha mencegah imigrasi besar-besaran orang asal Pulau Samosir dan bagian selatan Danau Toba yang datang ke Kabanjahe untuk mengajar di sekolah-sekolah atau untuk mengembangkan budi daya sayuran. (3) 

08 November 2011

Kecemasan di Awal 1920 : Usaha Pelestarian Adat Istiadat dan Bahasa Karo

Pelestarian Adat Istiadat dan Bahasa
Bagi penduduk asli, paling tidak sejak 1918, sudah ada perasaan bahwa memiliki aksara sendiri adalah suatu tanda “bangsa” yang maju. (1)

Bulan Oktober 1924, sebuah tulisan menyatakan bahwa “bangsa Karo” kaya, karena memiliki sebuah bahasa, sebuah adat dan sebuah aksara. Akan tetapi “miskin dan tidak layak, karena tidak menggunakan atau menghormatinya ketiganya.” (2)

Sebelumnya awal tahun 1920, seorang koresponden koran Pewarta Deli menyesalkan bahwa bangsa Karo Langkat Hulu membiarkan sebuah “bangsa” lain mengurus perdagangan hasil pertaniannya. Bagi penulis ini, hal itu adalah bukti bahwa “bangsa” ketinggalan dan menjelaskan reputasi buruk bangsa Karo Langkat Hulu di mata “bangsa-bangsa” lain.(3)

Ini terjadi semenjak Agustus 1916, banyak orang Melayu di Labuhandeli memutuskan untuk menjual tanah mereka kepada orang Tionghoa dan kemudian menetap di Langkat, dekat Tanjungpura. Beberapa bulan kemudian, gelombang penjualan, yang bahkan dilakukan dengan harga murah itu, dibeberkan oleh seorang Melayu yang menuding hal itu sebagai kemalasan “bangsa” nya. Begitu memperoleh tanah, orang Tionghoa langsung menanam sayuran atau tumbuhan lain seperti kelapa, nanas atau sirih yang kemudian dijual dengan untung yang besar.(4)


Tahun 1929, upacara-upacara  keagamaan tradisional dianggap sebagai suatu “kekayaan nasional,” dan orang Karo Kristen dituduh tidak lagi mau memberikan sumbangan untuk upacara-upacara pemujaan nenek moyang. (5)

Tentang Pa Mbelgah


Pa Mbelgah
Oleh Ita Kaban

Dalam buku “Sejarah Karo dari zaman ke zaman” karya Brahma Putro (Kongsi Brahmana) terbitan tahun 1979, pada jilid ke-3 (dari 5 jilid) ada dituliskan riwayat Pa Pelita Purba dan Pa Mbelgah Purba. Berikut sekelumit kisah dari beberapa halaman dari buku tersebut :

Dalam tahun 1895 sepasukan Laskar Simbisa dari Urung XII Kuta Kabanjahe pimpinan Sibayak Pa Mbelgah dan Sibayak Pa Landas, turun ke Liang Muda, membantu rakyat yang sedang melawan Kompeni Belanda dan tentara Sultan Serdang.

Lalu terjadi voorcontak antara pasukan Sibayak Pa Mbelgah dengan tentara Sultan Serdang dan militer Belanda. Pertempuran berlangsung beberapa hari dengan serunya. Di Liang Muda, ada sampai sekarang tumbuh sepohon kayu ‘Cingkam’, separoh batangnya sebelah atas sudah putus karena gencarnya tembakan-tembakan pasukan Sibayak Pa Mbelgah.

Mengenai Perang Liang Muda ini, T.Lukman Sinar , SH menerangkan dalam bukunya “Sari Sejarah Serdang”, antara lain sebagai berikut :

“Di dalam tahun 1895 terjadi suatu perselisihan di antara perbapaan (kepala daerah dusun) Liang dengan perbapaan dari Bakbak (Bahbah BP), dimana yang pertama ini di pimpin oleh seorang petualang dari Tanah Karo yang bernama Pa Mbelgah ….

Pa Mbelgah
Nama Sibayak Pa Mbelgah raja besar dari Tanah Tinggi Karo itu, sangat termashur di daerah Sinambah Tanjung Muda Hulu dan HIlir, di Deli, Langkat Hulu. Kegagahan, keperkasaan serta kewibawaan Sibayak Pa Mbelgah tidak ada tandingannya dalam raja-raja di Karo di waktu itu, namun suatu sesalan sejarah telah terlukis olehnya, karena menjelang akhir tahun 1902 Sibayak Pa Mbelgah yang gagah perkasa dan saudaranya Sibayak Pa Pelita yang ulung berdiplomasi itu, bekerjasama dengan pihak pemerintah Belanda.

Rumah Pa Mbelgah
Hal ini disebabkan karena pemerintah kolonial Belanda dapat memahami dan mengerti tentang psikologi orang Karo yang berwatak orisinil, kepala batu, pantang dihina oleh siapapun. Tetapi dibalik itu hatinya berdenyut selembut kapas putih, bila mana orang-orang berbuat baik, dan cepat mengerti. Oleh karena itu pemerintah kolonial Belanda dalam memperluas jajahannya , memakai dua sistem siasat. Satu dengan kekerasan senjata, dan satu sistem lagi dengan cara menebarkan ajaran kerohanian, terutama ajaran Calvinis atau Lutheran. Menebarkan ajaran kerohanian dipakai oleh pemerintah kolonial Belanda dalam menaklukan kedua raja besar tersebut.

Selanjutnya K.S. Depari menulis sebagai berikut :

“Rupanya Pa Pelita dan Pa Mbelgah ini adalah pendekar dan pejuang yang selalu menyesuaikan langkah kepada kondisi dan situasi. Selama lebih kurang 10 tahun (1894-1904), trio Pa Mbelgah, Pa Pelita dan Westenberg menurut cara masing-masing menentukan “perang atau damai” di Tanah Karo gunung dan dusun. Pa Mbelgah dan Pa Pelita dari marga Karo-karo Purba keduanya adalah Sibayak Kabanjahe tapi “rivalen” yang satu tidak mengakui keunggulan yang lain. Yang pertama adalah seorang panglima, yang kedua orator dan politikus. Pertentangan antara Sibayak Pa Pelita dan Sibayak Pa Mbelgah adalah suatu jalan dan dalih bagi pemerintah kolonial Belanda masuk ke Tanah Tinggi Karo, untuk mendamaikannya, katanya.

Mengenai trio Sibayak Pa Mbelgah , Sibayak Pa Pelita , Westenberg yang disebutkan mulai tahun 1894-1904, hal ini perlu diselidiki kembali, karena dalam tahun 1895 pasukan-pasukan Sibayak Pa Mbelgah masih berada dalam front pertempuran melawan pasukan Sultan Serdang dan Militer Belanda di Liang Muda Serdang Hulu sebagaimana yang diuraikan oleh Tengku Lukman Sinar, SH dalam bukunya Sari Sejarah Serdang. Kemungkinan sekali setelah terjadi Perang Liang yang termasyur itu (1895) barulah beberapa tahun kemudian menjelang tahun 1902, terjadi trio Sibayak Pa Mbelgah, Sibayak Pa Pelita dan Westenberg .

Menurut M.Muhammad Said dalam harian Waspada 28 April 1973, sebagai berikut :

“Atas fasilitas perkebunan dan pembesar Belanda di Medan dan diawal tahun 1908, Pdt. Guillaume sudah berada di wilayah tersebut dan ia rupanya sudah demikian mujur karena telah berhasil membujuk dua orang raja (Sibayak) di tanah Karo, yakni Pa Pelita dan Pa Mbelgah untuk membolehkannya membuka rumah ibadat (gereja) disana. Berdasarkan persetujuan tersebut, Guillaume mulailah membangun “markasnya” di Kabanjahe. Tapi Tanah Karo bukanlah dimiliki dua Sibayak ini, banyak raja disana semuanya mereka kecuali yang dua ini, menentang masuknya pengembangan agama Kristen (dengan cara seperti ini sekaligus menentang ekspansi kolonialisme Belanda).

Sumber : Klik.

Catatan tambahan :

Menurut buku Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo 1890-2000 karya Dk.Em.P.Sinuraya, kabar baik mulai melanda masyarakat Karo pada tahun 1890 yang bermula dari Karo Jahe. Di dalam buku yang ditulis Dk.Em.P.Sinuraya tersebut, dikisahkan pada tahun 1911 masyarakat Karo di Kaban Jahe telah dibaptis sebanyak 70 orang, salah satu tokoh Karo terkenal yang ikut dibaptis adalah Sibayak Pa Mbelgah (Sibayak Rumah Kaban Jahe).

Namun sangat disayangkan Sibayak Pa Mbelgah tak lama kemudian keluar dari gereja karena ada perbedaan/pertentangan pendapat antara Pa Mbelgah dengan pendeta. Pada waktu itu sebagai raja ketika menerima tamu undangan biasanya disambut dengan gendang dan menari sebagai penghormatan terhadap tamu tersebut.

Ketika kebiasaan tersebut ditanyakan Pa Mbelgah kepada pendeta apakah dibolehkan atau tidak, pendeta menjelaskan tidak boleh karena gendang tersebut dianggap mengandung unsur kekafiran, dan unsur kekafiran tidak boleh dikawinkan dengan agama Kristen. Sangat disayangkan P.Sinuraya tidak menulis apa yang dimaksud dengan unsur-unsur kekafiran tersebut.

Sumber : Klik