30 Januari 2012

Perahu Kematian (Pelangkah) Sibayak Soerbakti

Perahu Kematian (pelangkah) Sibayak Soerbakti di desa Soerbakti.
Bahagian depan kapal berbentuk burung enggang atau rangkong.
Di bahagian depan terdapat patung pria dan di belakang terdapat patung wanita.
Diperkirakan antara tahun 1914-1918.

Doodskist van een Sibayak in Soerbakti.
Photo oleh : T (Tassilo) Adam


Tulang-tulang Sibayak Soerbakti

Tengkorak Kepala Sibayak Soerbakti

Patung Pria di depan Kapal Kematian



Patung Perempuan di Belakang Kapal Kematian

Letak kapal kematian Sibajak Soerbakti
Sumber : Tropenmuseum 

4 komentar:

Karo Siadi mengatakan...

Dari diskusi di FB Group Jamburta Merga Silima :

~Tabloid Sora Sirulo : Nama yg kita sebut kapal itu dalam bahasa Karo adalah pelangkah

~Tabloid Sora Sirulo : Mayat atau tengkorak yang digali kembali dari kuburan dibakar dulu baru dimasukkan ke pelangkah

~Tabloid Sora Sirulo : abu hasil pembakaran ditaruh ke dalam pelangkah dan kemudian dihanyut. Sekejap setelah dihanyutkan, orang-orang langsung melemparinya dengan batu agar pelangkah tenggelam

Marthin Silalahi mengatakan...

infonya menarik sekali, kebetulan saya juga tertarik dengan kebudayaan Karo.

Salam

jasa sembiring mengatakan...

Dangat menarik peninggalan budaya Karo spt ini. Trimakasih buat sdr yg telah mempublikasikan pelangkah ini.

Orang karo sekarang taunya PELANGKAH adalah tempat makan babi. Terbuat dari kayu atau bambu

jasa sembiring mengatakan...

Saya baru tau kalau sejak zaman belanda perahu kematian (pelangkah) sudah musnah. Orang tua saya yg lahir tahun 1928 menunjukkan kpd saya bahwa pelangkah adalah tempat makan babi peliharaan. Memang bentuk dasarnya sama. Terbuat dari kayu besar dan dibuat lubang dg cara dipahat.