31 January 2012

Pelangkah (Perahu Kematian)


Deskripsi : Model bentuk dari perahu kematian dari seorang Sembiring (Karo). Ciplakan dari sebuah perahu yang terdapat pada museum Batak sang Raja. Setiap tujuh atau delapan tahun keluarga Sembiring melaksanakan pesta kematian. Tulang tulang dari seseorang, yang meninggal dunia sejak dari pesta yang terahir, di gali dan di letakkan di dalam pot. Kemudian dihanyutkan ke sungai Lau biang . Hal di bawah ini berasal dari Achim Sibeth, The Batak, London Thames and Hudson, 1991 p. 70-73. Kekaisaran kematian tersebut biasanya terdapat tidak jauh dari tempat pemakaman atau pegunungan. Beberapa dari Karo meyakini bahwa kekaisaran kematian (alam kematian) hanya dapat di capai melalui air. Kepercayaan lama ini memungkinkan sebuah hal bahwa mereka yang memiliki posisi penting di Karo di letakkan di peti yang berbentuk sebuah kapal perahu dengan bagian kepalanya berbentuk seekor burung rangkong.

Peti Kayu bertulis seperti itu dinamakan pelangkah. Pelangkah terletak di sisi samping rumah yang di bubuhi sebuah pipa saluran air untuk pengaliran cairan tubuh, yang di salurkan langsung menuju ke tanah . Apabila sanak saudara memiliki cukup dana , maka akan dilaksanakan penguburan yang kedua. Sisa sisanya dibersihkan dan tengkorak dan tulang tulang besarnya di letakkan di geriten, rumah untuk tulang tulang. Tulang tulang lainnya di bakar . Seremoni ini disebut nurun nurun. Pada situasi yang lainnya seluruh tulang tulang tersebut di bakar, dalam hal ini tidak ada keseragaman . Pada sisi atas peti terdapat seorang laki laki di bagian depan yang biasanya menyandang sebuah senjata dan wanita di letakkan di sisi bagian belakang. Fungsi dari senjata tersebut adalah sebagai berikut. Sosok sang Begu , roh dari yang meninggal dunia di pisahkan dari jiwanya, roh yang hidup pada mereka yang ditinggalkan dipertahankannya untuk mengikuti jejak roh yang mati. Figur wanita adalah sosok seorang prister, guru sibaso. Tangannya bagaikan memohon ke atas sana. Figur figur seperti ini juga terdapat pada perahu keluarga Sembiring, seperti exemplar. Kebanyakan dari Sembiring melaksanakan pembakaran dalam hal kematian dan meletakkan abunya di pot pada saat seremoni besar besaran dilaksanakan. Setelah orang belanda menduduki/menguasai wilayah karo, hal seperti ini tidak lagi dilaksanakan.

Keluarga Sembiring ini menurut beberapa legenda bahwa mayat meraka tidak akan dibolehkan di biarkan lama di dalam kubur dan secepat mungkin di bakar . kemudian mereka meletakkan abunya ke atas perahu ini dan menghanyutkannya ke sungai. Figur figur kecil di atas perahu tersebut , menyatakan mereka mereka yang telah meninggal dunia , biasanya empat atau delapan. Semuanya terbuat dari kayu pohon kemiri . Semuanya di warnai dengan warna batak merah dan hitam. Setiap sosok yang meninggal mendapatkan sebuah pakaian dan perhiasan, agar dapat dikenali. Pakaian, senjata dan perhiasan dari yang meninggal di gantungkan pada perahu tersebut. Di awali dengan penempatan perahu di atas gunung pasir , sesudah itu di ikat pada rakit bambu. Abu dari yang meninggal dunia di sebarkan di atas perahu , atau pot potnya di isi dengan abu dan di letakkan di atas perahu. Sibeth percaya bahwa pot pot yang berisikan abu, pada rakitan bambu, di letakkan di samping p erahu tendi. Setelah selesai seremoni pertangisen maka perahu tersebut di bawa kembali ke kampung. Pada hari keenam segalanya di bawa kembali ke gunung pasir. Pada bagian paling belakang dari haluan perahu di letakkan sebuah korban yaitu ayam betina putih. Di siang hari perahu tersebut di biarkan di permukaan air setelah mast dan pakaian senjata, dan perhiasan di keluarkan. Sebelas kali perhu tersebut berlayar maju dan berlayar mundur, kemudian dilempari keluarga Sembiring dengan batu ke perahu tersebut sehingga terbalik. Dengan demikian abu tersebut lebih cepat tumpah ke air . Untuk keluarga sembiring tendi tendi tersebut langsung menuju ke alamnya . Karo lainnya memiliki kepercayaan bahwa roh tersebut berada di kuburan .

Diterjemahkan oleh Gabriella bru Ginting


Model van een dodenschip vervaardigd uit o.a. aren
Beschrijving :

Model van een dodenschip van de Sembiring (Karo Batak). Kopie van een boot die stond opgesteld in het Batak museum te Raja. Iedere zeven of acht jaar hielden de Sembiring een dodenfeest. De beenderen van degenen, die waren overleden sinds het laatste feest, werden opgegraven en in een pot geplaatst. Deze liet men de Lau Biang rivier afdrijven. Onderstaande komt uit Achim Sibeth, The Batak, London Thames and Hudson, 1991 p. 70 - 73 Het dodenrijk bevond zich meestal niet ver van het dorp, in de buurt van de begraafplaats of bergen. Sommige Karo geloofde dat het dodenrijk slechts over water bereikt kon worden. Dit oude geloof heeft mogelijk ertoe geleid dat heel belangrijke Karo in een doodskist gelegd werden in de vorm van een schip met de kop van een neushoornvogel.

Dergelijke kisten heetten pelangkah. De pelangkah stond naast het huis met een afvoerpijp voor de lichaamssappen, die zo de grond instroomden. Als de familie voldoende geld had verzameld, vond een tweede begrafenis plaats. De resten werden schoongemaakt en de schedel en de grote botten vonden een plaats in de geriten, het bottenhuis. De overige botten werden gecremeerd. Deze ceremonie heette nurun-nurun. In andere gevallen werden alle botten gecremeerd, hierover bestaat geen eenduidigheid. Op deze kisten werden een man voorop, vaak met een geweer, en een vrouw achterop geplaatst. Het geweer heeft de volgende functie. Het moet de begu, de dodeziel van de overledene weghouden en de tendi, de levensziel van de nabestaanden weerhouden de dodenziel te volgen. De vrouwfiguur is een priesteres, guru sibaso. Haar handen zijn smekend opgeheven. Dergelijke figuren komen ook voor bij de Sembiring dodenschepen, zoals dit exemplaar. De meeste Sembiring cremeerden hun doden en deden de as in potten tijdens grote ceremonie├źn. Nadat de Nederlanders het Karo gebied overheerste werden deze ceremonie├źn niet meer uitgevoerd.

Deze Sembiring Batak zouden volgens verschillende legendes hun doden niet langer mogen begraven en waren overgegaan tot cremeren. Vervolgens lieten ze de as op deze boten de rivier afdrijven. De kleinere figuren op de boot, stelden overledenen voor, meestal vier of acht. Alles is gesneden uit kemiri hout. Alles is geschilderd in de Batak kleuren rood en zwart. Elke overledene krijgt kleding en sieraden, zodat ze herkenbaar worden. Kleding, wapens en sieraden van de overledenen worden op de boot gehangen. Eerst worden de boten op een zandberg geplaatst, daarna vastgemaakt op een bamboe vlot. De as van de overledenen werd uitgestrooid op de boot, of de potten met as worden op de boot geplaatst. Sibeth gelooft dat de potten met as, op het vlot, naast de zielenboot werden geplaatst. Na een rouw ceremonie bracht men de boot weer terug naar het dorp. Op de zesde dag werd alles weer naar de zandberg gebracht. Op het achterdek werd een offer van een witte hen neergelegd. In de middag werd de boot te water gelaten nadat de mast en de kleding, wapens en juwelen waren verwijderd. Elf keer werd de boot stroom opwaarts en afwaarts gevaren, daarna gooiden de Sembiring stenen naar de boot zodat die zou kapseizen. Hierdoor zou de as sneller naar de rivier gaan. Voor de Sembiring konden de zielen zo naar het dodenrijk gaan. Andere Karo geloofden dat de ziel dichter bij de begraafplaats bleef.

Titel : Model van een dodenschip vervaardigd uit o.a. aren
Vervaardigingsdatum : ca. 1924
Aanbieder : Tropenmuseum Amsterdam

Source : digitalecollectienederland.nl  klik

No comments:

Post a Comment