26 January 2012

Si Narsar Karokaro, Master Catur Dunia Jaman Hindia Belanda (bagian 2)

Menurut profil surat kabar (yang memuat foto dirinya terlihat masih muda) pada 31 Januari 1914 edisi “Berita Hari Ini Untuk Hindia Belanda,” Si Narsar dikatakan berusia sekitar tiga puluh tahun, memiliki tiga istri, dan tinggal di Berastagi, sebuah daerah pegunungan di barat laut Danau Toba. Saat itu, ketika Perang Dunia I pecah di Eropa, Si Narsar melakukan pameran di Sumatera dan pertandingan melawan pemain top Belanda atas wilayah tersebut, kegiatan ini ia lanjutkan hingga dua tahun ke depan. Tapi mengingat konflik di seluruh dunia, harapan penggemar Belanda agar Si Narsar dapat tur ke Eropa semakin tak terwujud.

sebelumnya : bagian 1

Setelah pasca perang Dunia I, berita tentang Si Narsar meredup. Pada awal tahun 1923, Meyer menemui Si Narsar di Berastagi. Ia melaporkan Si Narsar jarang sekali bertanding catur selama beberapa tahun. Disebabkan beras semakin mahal dan tidak ada waktu untuk bermain catur. Tenaganya dihabiskan untuk bekerja mendapatkan kebutuhan rumah tangga. Pada kesempatan itu dua pertandingan ulang dimainkan (1 -1). Kedua permainan ini diterbitkan dalam edisi 11 Mei pada kolom Meyer dalam Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (Berita Hari Ini Untuk Hindia Belanda). Meyer bersaksi Si Narsar itu, meskipun kurang melakukan praktek dan hanya menguasai teori dasar, tetap menjadi lawan berbahaya.

Foto pecatur Si Narsar dengan istri dan anaknya
tahun foto antara 1914-1919
Portret van een Karo Batak echtpaar van aanzien; de schaker Si Narsar met zijn echtgenote en hun baby
Sumber : Tropenmuseum

Meskipun bisa dibilang ia pemain dari Karo yang paling banyak dipublikasikani, ternyata ada dua pemain kuat lainnya yang mengikuti jejak Si Narsar yaitu : Si Ngoekoem dan Si Toemboek. Pada tahun 1918-1919 keduanya dikenal sebagai pemain catur dari Karo yang sangat baik. Mereka naik mungkin ada hubungannya dengan menghilangnya Si Narsar dari arena percaturan lokal.

Si Toemboek
Kesempatan pecatur Karo untuk menampilkan keahlian mereka melawan master kelas dunia datang pada bulan Oktober 1925 ketika Boris Kostic tiba di Sumatera selama perjalanan tur dunianya. Pada hari Minggu, 4 Oktober Kostic, didampingi oleh pemandu Belanda, berkelana ke daerah pegunungan (Brastagi) yang dihuni oleh orang Karo, dengan tujuan menantang mereka. Menurut koran De Sumatera Post bertanggal 5 Oktober, orang Serbia ini menemukan Si Narsar, dan di luar perkiraan Si Narsar mengalahkannya dua kali. Kostic juga berjanji akan bertemu di Medan dengan dua pemain top lainnya dari Batak, Si Ngoekoem dan Si Toemboek. Pada tanggal 6 Oktober Kostic memberi pameran enam papan simultan dengan mata tertutup di masyarakat kulit putih (+5 - 1). Dalam permainan individu terhadap dua orang Karo terkemuka, Kostic harus mengakui kekalahan. Memahami kesalahannya dalam meremehkan mereka, Kostic memuji orang Karo untuk keterampilan mereka, mengingat mereka diatas Meijer (Kostic kalah dalam lima pertandingan 3 ½ -1 ½ saat menjadi tamu editor catur itu di Batavia).

Pada malam 6 Oktober, mulai pukul 07:00, Kostic mulai melakukan pertandingan simultan yang tidak biasa pada tiga papan di Hotel Medan. Lawannya adalah orang Karo yaitu Si Ngoekoem, Si Toemboek dan Si Narsar, dan yang terakhir ini tiba di Medan dari Brastagi. Harian De Sumatera Post bertanggal 7 Oktober menggambarkan proses dengan sangat rinci, menggaris bawahi kecemasan orang-orang Karo yang bertemu dengan kesempatan sekali dalam seumur hidup untuk menghadapi lawan sekaliber itu. Intensitas permainan berlangsung hingga pukul 01:00, dan Kostic berhasil memenangkan ketiga permainan. Ia memuji Si Toemboek, pemain peringkat tertinggi di antara orang Karo pada saat itu, yang memberinya perlawanan terkuat.

Skor dari seluruh tiga pertandingan, di bawah ini, muncul pada tanggal 18 November dalam kolom Meijer di harian Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indië. Pada pertandingan pertama, pembukaan yang dilakukan Si Ngoekoem begitu rapuh, ia ditakdirkan benar-benar melawan seorang master.

Blog ChessCafe menuliskan :
In the first game, Si Ngoekoem's ruinous opening play doomed him against a master of Kostić's stature, yet 24.Rxd3!? (instead of 24.Ra2) could have made things far more interesting:

Berikut laporannya :

Si Ngoekoem – Boris Kostić
Medan Chess Club, Medan Hotel
Simultaneous Exhibition at three boards
6 October 1925

1.e4 e5 2.d3 Nf6 3.Nf3 Nc6 4.Be2 d5 5.exd5 Nxd5 6.c3 Be7 7.b4 Bf6 8.Bd2 0–0 9.a3 Bf5 10.0–0 Qd7 11.Ra2 h6 12.b5 Nd8 13.c4 Ne7 14.Bc3 Ng6 15.Rd2 Ne6 16.d4 e4 17.Ne1 Nef4 18.Nc2 Nxe2+ 19.Qxe2 Nf4 20.Qe1 Nd3 21.Qe2 Bg6 22.d5 Bg5 23.Ne3 f5

[FEN "r4rk1/pppq2p1/6bp/1P1P1pb1/2P1p3/
P1BnN3/3RQPPP/1N3RK1 w - - 0 24"]
24.Ra2 f4 25.Qg4 Qf7 26.Nc2 Bh5 27.Qe6 Qxe6 28.dxe6 Be2 29.Nd4 Bxf1 30.Kxf1 Rae8 31.f3 e3 32.Rc2 Bf6 33.Ke2 Nc5 34.g3 g5 35.e7 Bxe7 36.g4 Bf6 37.Nf5 Kh7 38.Bb4 b6 39.Nc3 Bxc3 40.Rxc3 Rd8 41.Rc1 Rf7 42.h4 Rfd7 43.hxg5


[FEN "3r4/p1pr3k/1p5p/1Pn2NP1/
1BP2pP1/P3pP2/4K3/2R5 b - - 0 43"]
43...Rd2+ 44.Bxd2 Rxd2+ 45.Kf1 hxg5 46.Rb1 Nd3 47.Nd4 Ne5 48.Ne2 Nxf3 49.Rb3 Rxe2 0–1


Permainan Si Toemboek adalah yang paling tidak biasa. Menurut harian De Sumatera Post bertanggal 7 Oktober, pemain Karo ini tidak yakin aturan Eropa.

Blog ChessCafe menuliskan :
According to De Sumatra Post of October 7, the Batak player was unsure of the European rules and repeatedly enquired of some of the spectators about how certain pieces moved. He may well have been pulling the legs of European spectators, who didn't know his strength at the game. For someone who supposedly needed guidance navigating the game's basic rules, his French Defense was rather excellent. Perhaps, had he found 28…Rg6!, instead of 28…Bc6?!, he would have put up an even more tenacious fight :

Boris Kostić – Si Toemboek
Medan Chess Club, Medan Hotel
Simultaneous Exhibition at three boards
6 October 1925

1.d4 e6 2.e4 d5 3.Nc3 Bb4 4.e5 c5 5.a3 Bxc3+ 6.bxc3 c4 7.Qg4 g6 8.Nf3 h5 9.Qf4 Nh6 10.Ng5 Nc6 11.f3 Bd7 12.g4 hxg4 13.fxg4 Qe7 14.a4 0–0–0 15.Ba3 Qe8

[FEN "2krq2r/pp1b1p2/2n1p1pn/3pP1N1/
P1pP1QP1/B1P5/2P4P/R3KB1R w KQ - 0 16"]
16.Bxc4!?

An appealing sacrifice by Kostić. The alternative was Bf1–g2 and 0–0 with an excellent position.

16...f5

Possible was also 16...dxc4 17.Ne4 Qg8 18.Qf3 Kb8 19.Nf6 Qg7 20.Rb1 with a playable position for both sides.

17.Be2 fxg4?!

17...Na5! would have been a more subtle positional approach.

18.Bxg4 Nf5 19.Nf3 Na5! 20.Nd2 Bc6

20...Bxa4!? 21.Bb4 Qb5 22.Nb3 Nxb3 23.cxb3 Bxb3 24.Rxa7 Qd3 25.Ra1 Bc4 was a very good alternative for the Batak player.

21.h4 Rd7 22.Qg5 Rdh7 23.h5 Bd7 24.Bxf5 gxf5 25.h6 Rg8 26.Qf6 Nc4 27.Nxc4 dxc4 28.0–0–0

[FEN "2k1q1r1/pp1b3r/4pQ1P/4Pp2/
P1pP4/B1P5/2P5/2KR3R b - - 0 28"]
28...Bc6?!

If 28...Bxa4?!, then 29.Rhg1 Rg4 30.d5! Bd7 31.dxe6 Qxe6 32.Bf8! and Black may have to suffer considerably before obtaining a clear peace of mind. 28...Rf7?! wouldn't have sufficed either: 29.h7! Rxf6 30.hxg8Q Qxg8 31.exf6 Qg5+ 32.Kb2 Qxf6 33.Rdg1 Qd8 34.Rh7 a5 35.Rgg7 and White should win. But 28...Rg6! would have been the key: 29.Qf8 (29.Qh4? Bc6 30.Rh2 Be4 and Black is much better.) 29...Bxa4 30.Rdg1 Rh8 31.Qxe8+ Bxe8 32.Rxg6 Bxg6 with chances for an equal endgame.

29.Rhg1 Rgh8 30.Rg6

[FEN "2k1q2r/pp5r/2b1pQRP/4Pp2/P1pP4/
B1P5/2P5/2KR4 b - - 0 30"]
30...Bf3?!

Another less inspired idea. Somewhat better was 30...Bd5!? 31.Rdg1 b6 32.Kd2 Be4 33.Bd6 Kb7 34.Rg7+ Ka6 35.Rxh7 Rxh7 36.Qf8 and White has the upper-hand but there was still some play for Black.

31.Rdg1 Bg4 32.Rh1

32.Bd6! was much stronger.

32...Rf7?

32...Bf3 33.Rh4 Bd5 was needed.

33.Qxe6+ Qxe6 34.Rxe6 f4 35.Re7 Rxe7 36.Bxe7 Kd7 37.Bf6 Rh7 38.Bg7 Ke6 39.Rh4 Kf5 40.e6

Kostić could have gone for the straightforward line: 40.Rxg4 Kxg4 41.e6 f3 42.Kd2 Kg3 43.e7 f2 44.e8Q f1Q 45.Qg6+ Kh4 46.Qxh7 and Black has no perpetual check.

40...f3 41.e7 f2 42.Rh1 Kf4 43.e8Q Kf3 44.Qf7+ Kg2 45.Qxc4

45.Rh2+ Kxh2 46.Qxf2+ Kh3 47.Be5 would have mated quicker but somehow Kostić's own choice is still elegant.

45...Kxh1 46.Qf1+ Kh2 47.Be5 mate 1–0


Sebuah penelitian dari permainan Si Narsar melawan Kostic membuat jelas bahwa permainannya adalah sekelas dengan Si Toemboek.

Analisa dari blog Chesscafe :
His unfortunate 33.Nxh6? placed him in a lost position, but with a simple queen exchange and a well-timed c4-c5 thematic push he could have given the Serbian master quite a headache, one guaranteed to last past midnight:

Si Narsar – Boris Kostić
Medan Chess Club, Medan Hotel
Simultaneous Exhibition at three boards
6 October 1925

1.d4 f5 2.e3 e6 3.Nf3 Nf6 4.Be2 b6 5.b3 Bb7 6.0–0 g6 7.Bb2 Bg7 8.Nbd2 0–0 9.c4 d6 10.b4 Nbd7 11.a4 a5 12.b5 Ne4 13.Qb3 Qe7 14.Rac1 h6

[FEN "r4rk1/1bpnq1b1/1p1pp1pp/pP3p2/
P1PPn3/1Q2PN2/1B1NBPPP/2R2RK1 w - - 0 15"]
15.Nxe4 fxe4 16.Nd2 Rf7 17.Qc2 Nf6 18.f3 exf3 19.Bxf3 Bxf3 20.Rxf3 g5 21.Rcf1 Raf8 22.Qd3 Nd7 23.Rxf7 Rxf7 24.Ba3 e5 25.d5 Rxf1+ 26.Kxf1 Nf6

Interesting yet risky would have been 26...e4 27.Qxe4 Qxe4 28.Nxe4 Ne5 29.Nd2 Ng4 30.Ke2 Nxh2 31.c5 bxc5 32.Nc4 Ng4

[FEN "6k1/2p3b1/3p3p/pPpP2p1/P1N3n1/
B3P3/4K1P1/8 w - - 0 33"]

33.e4 (It appears White can only draw with 33.Nxa5 Nf6 34.Nc4 Nxd5 35.Kd3 Nc3 36.b6 cxb6 37.Nxb6 g4 38.Bb2 Na2 39.Bxg7 Kxg7 40.Kc4 h5 41.a5 Nb4 42.Nc8 h4 43.Nxd6 h3 44.gxh3 gxh3 45.Kxc5 h2 46.Nf5+ Kf6 47.Ng3 Na6+ 48.Kb6 Nb8 etc.) 33...Bc3 34.Kd3 Bh8 35.Nxa5 Nf2+ 36.Kc4 Nxe4 37.Nb3 and perhaps White can try to play for a win.

27.e4

27.Qf5 Qf7 28.Ke1 Qh5 29.h3 Qh4+ 30.Ke2 Qh5+ with balanced play.

27...g4 28.Kg1 h5 29.Nf1 Bh6 30.Ng3 Qg7 31.Nf5 Qg5 32.g3

Si Narsar could have complicated to the extreme with 32.c5!? and a long, illustrative variation could be the following: 32...bxc5 33.Bb2 Kf8 34.Qf1 Qf4 35.Qe1 Bg5 36.b6 cxb6 37.Nxd6 h4 38.Bc3 h3 39.Nc4 Qxe4 40.Qxe4 Nxe4 41.Bxe5 Bd8 with unclear play.

32...Qd2


[FEN "6k1/2p5/1p1p1n1b/pP1PpN1p/
P1P1P1p1/B2Q2P1/3q3P/6K1 w - - 0 33"]
33.Nxh6+?

With 33.Qxd2!, Si Narsar was still in a good position: 33...Bxd2 34.c5! bxc5 35.b6 cxb6 36.Nxd6 Be3+ 37.Kf1 Kf8 and Kostić had to work very hard to make anything out of this.

33...Qxh6 34.Kg2 Qg6 35.c5

Now this is too late.

35...Qxe4+ 36.Qxe4 Nxe4 37.cxb6 cxb6 38.Kf1 Kf7 39.Ke2 Ke7 40.Kd3 Nc5+ 41.Kc4 Nxa4 0–1

Setelah pertandingan itu, Si Toemboek dan Si Narsar kembali ke tanah asal mereka, mungkin menghidupi rumah tangga mereka sampai petualangan catur berikutnya. Si Ngoekoem yang hanya tersisa di Medan dan menawarkan pertandingan simultan di klub lokal. Dengan cara mereka sendiri, ketiganya tetap berkomunikasi. Lima tahun kemudian, foto Si Toemboek muncul dalam edisi Oktober-November 1930 terbitan Tijdschrift van den Nederlandsch-Indischen Schaakbond hal ini dalam rangka tur Max Euwe (juara catur negeri Belanda). Ia tertarik pada permainan pecatur Karo. Pada awal November 1933, ketiga orang Karo hebat itu direncanakan untuk berkunjung ke Singapura untuk eksibisi catur, menurut Straits Times bertanggal 6 November. Sebagaimana dengan rencana Si Narsar untuk tur Eropa pada tahun 1910, perjalanan tidak pernah terjadi. Ruang lingkup permainan catur mereka tetap terbatas pada tanah Karo dan dengan demikian tidak mudah diakses atau sepenuhnya didokumentasikan. Penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk mendokumentasikan kehidupan mereka, maupun tentang karir pemain Karo di Sumatera tahun 1930-an dan 1940-an. Dasar untuk penggalian sumber data lebih mudah diakses saat ini daripada sebelumnya, dan mungkin membuka titik terang  akan informasi tentang masa lalu.

Catatan penekanan oleh blog ChessCafe :
Pada tingkat yang jauh lebih luas, dunia orang-orang Karo di Sumatera layak untuk serius dilakukan penelitian ilmiah yang bersifat multidisiplin, yang menggabungkan antropolog, etnografer, sejarawan, ahli bahasa, dan lainnya. Antara delapan hingga sepuluh juta orang Batak saat ini tinggal di Sumatera, dan masa lalu mereka tetap salah satu daerah yang paling menarik dan sedikit dieksplorasi dalam sejarah Asia Tenggara. Dan catur bagi orang Karo, berbeda dengan banyak penduduk asli lain di bawah kekuasaan kolonial, menjadi bagian dari warisan budaya mereka. Di desa-desa mereka di dataran tinggi di hutan Sumatra, mereka tidak memiliki aturan tertulis untuk permainan catur. Tak ada buku panduan bagi pemula. Mereka tidak memiliki café, tidak ada klub, dan tidak ada kabel telegraf untuk menyiarkan inovasi terbaru. Namun tradisi bermain catur yang baik itu diturunkan dari ayah ke anak, dari desa ke desa, dari satu dekade ke dekade yang lain. Melalui catur, sebuah dugaan, orang Karo terkadang juga menemukan sebuah "bahasa" yang sama atas tekanan kolonial pada mereka. Salah satu di mana, mereka bisa menunjukkan kemampuan mereka sendiri dan keterampilan sendiri, setidaknya bidang tingkat lebih tinggi. Si pemain terkemuka seperti Si Narsar, Si Toemboek, dan lain-lain, mengisyaratkan bahwa tidak hanya yang terpelajar, yang "beradab," orang kaya, seperti masih banyak diyakini di waktu itu oleh orang kulit putih, bahwa hanya mereka-merekalah yang mampu bermain catur.

Tulisan ini bersumber dari tulisan Olimpiu G. Urcan berjudul : 
"An Unusual Clash. Kostić vs. Bataks, Medan 1925" yang dimuat di ChessCafe.com.

3 comments:

  1. Narsar ini karo-karo Purba ya? kayanya pernah dengar namanya disebut-sebut di keluarga kami :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali. Purba dari Berastagi. :)

      Delete
  2. Toemboek SinuLingga.. asal bintang meriah.. sinulingga rumah mbelin

    ReplyDelete