21 November 2010

Erpangir Ku Lau (Tradisi di Tanah Karo)

Erpangir Ku Lau di jaman Belanda
 oleh : Novrasilofa. S, Herliyana .R.dan Irma Yuliana.

Erpangir berasal dari kata pangir, yang berarti langir. Oleh sebab itu erpangir, artinya adalah berlangir. Pada tulisan ini penulis tidak membahas pengertian berlangir seperti biasa, misalnya: seperti menyampo rambut. Akan tetapi erpangir dalam arti upacara religious menurut kepercayaan tradisional Karo.

Banyak upacara – upacara religious yang dilakukan dalam kehidupan seseorang berdasarkan kepercayaan tradisional Karo. Misalnya: mukul ( pensakralan perkawinan ), mbaba anak ku lau ( membawa anak turun mandi ), juma tiga ( upacara memperkenalkan anak kepada dasar pekerjaan tradisional Karo, yakni bertani ), mengemabahken nakan ( mengantar nasi untuk orang tua ), dan lain – lain. Berbeda dengan agama – agama modern, dimana sudah diatur secara tegas upacara ibadatnya. Umat Islam sembahyang lima kali sehari, dan wajib ke masjib tiap hari jumat, demikian juga Kristen wajib ke gereja sekurang – kurangnya tiap hari minggu. Penganut kepercayaan tradisional suku Karo tidak mengenal kewajiban demikian.

Mereka hanya mengadakan upacara religi ini apabila diperlukan saja. Misalnya pada waktu mendapat nasib baik, kelahiran, perkawinan, dan lain-lain. Jadi erpangir adalah suatu upacara religious berdasarkan kepercayaan tradisional suku Karo ( pemena ), dimana sesorang/keluarga tertentu melakukan upacara berlangir dengan atau tanpa bantuan dari guru, dengan maksud tertentu.

Alasan – alasan Erpangir
Ada beberapa alasan mengapa seseorang/keluarga tertentu mengadakan upacara erpangir. Adapun alasan – alasan itu, adalah:

a. Upacara terimakasih kepada Dibata. dalam hal ini erpangir dilakukan sebagai ucapan terima kasih dan syukur kepada Dibata ( Tuhan ), yang telah memberikan rahmat tertentu. Misalnya: memperoleh keberuntungan, terhindar dari kecelakaan, memperoleh hasil panen yang berlimpah, sembuh dari penyakit, dan lain sebagainya.
b. Menghidarkan suatu malapetaka yang mungkin terjadi. Dalam hal ini orang Karo melakukan upacara erpangir sebagai upaya untuk menghindakan suatu malapetaka yang akan terjadi, itu biasanya sudah terlebih dahulu diterka melalui firasat suatu mimpi yang buruk, atau berdasarkan keterangan dan saran dari guru.
c. Menyembuhkan suatu penyakit. Erpangir adakalanya diadakan sebagai upaya untuk mengobati suatu jenis penyakit tertentu. Misalnya untuk mengobati orang gila, atau yang diserang oleh begu, sedang bela, atau jenis – jenis hantu lainnya.
d. Mencapai maksud tertentu. Adakalanya erpangir ini dikakukan sebagai upaya untuk memohon sesuatu kepada Dibata (Tuhan). Misalnya agar cepat dapat jodoh, mendapat panenan/keberuntungan, memperoleh kedudukan yang baik, dan sebagainya.

Jenis – jenis Pangir Pangir menurut bobotnya dapat dibagi atas :

a. Pangir selamsam
Pangir selamsam adalah suatu pangir yang lebih kecil bobotnya. Di mana peralatannya hanya terdiri dari: sebuah rimo mukur (jeruk purut), baja (getah kayu besi), minyak kelapa, dan sebuah mangkuk putih untuk tempat pangir. Pertama-tama mangkuk diisi dengan air putih, kemudian buah jeruk purut dan diperas kemangkuk, lalu taruh baja dan minyak, maka pangir sudah jadi.

Pangir selamsam ini biasanya di adakan karena mendapat mimpi buruk, akan kadar keburukannya masih diragukan. Oleh karena itu untuk menghindari dari akibat buruknya, diadakan pangir selamsam. Setelah selesai pangir itu dibuat, maka orang yang mendapat mimpi buruk itu lalu ersudip (berdoa) kepada Dibata (Tuhan), agar ia dan keluarganya dihindari dari akibat buruk yang mungkin terjadi seperti yang telah tersirat dalam mimpinya. Sesudah itu ia dan keluarganya erpangir (mengusapkan) itu ke kepalanya masing – masing. Dan selesailah sudah pangir selamsam itu.

b. Pangir sitengah
Pangir sejenis ini terdiri dari :
1. Penguras, yakni ramuan dari air (air kelapa muda), jeruk purut, baja, minyak kelapa, dan jera;
2. Empat jenis jeruk, tetapi jeruk purut (rimo mukur) harus ada;
3. Kudin taneh (kuali dari tanah), sebagai tempat penguras (pangir);
4. Dilakukan di lau sirang (ditempat air mengalir terbelah menjadi dua aliran);
5. Memakai pertolongab guru.

c. Pangir sintua (agung)
Pangir sintua memerlukan peralatan sebagai berikut:
1. Penguras;
2. Tujuh jenis jeruk, jeruk purut harus ada;
3. Wajan (belanga), sebagai tempat penguras (pangir);
4. dilakukan di lau sirang;
5. Diletakkan atas sagak (corong bambu) dan di pinggirnya di beri berjanur (lambé);
6. Pada zaman dahulu pangir jenis ini diikuti dengan bunyi senapan;
7. Erkata gendang (memakai peralatan alat music Karo).

d. Mantra (tabas)
Pada umumnya setiap pangir, selalu di mantrai (itabasi), Atau disebut imangmangi. Tabas (mantra) ini biasanya diucapkan oleh guru dengan menembangkannya. Tabas ini dipercayai mempunyai kekuatan magis untuk mempengaruhi atau menyembuhkan penyakit tertentu. Tabas (mantra) dalam bahasa Karo, di mulai dengan berbagai jenis kata pembukaan, seperti:
a. Ada yang dimulai dengan : O….
Misalnya: O….ndilat la erdilah nipak la ernahé, nganggeh la rigung, engkarat la ripen, …dan seterusnya;
b. Ada yang dimulai dengan “E”, s
eperti : E… adi enggo kin …dan seterusnya.
c. Ada yang dimulai dengan “berkat”,
misalnya; berkat kita kakangku, agingku, saudara sir ras tubuh nduké, dan seterusnya.
d. Ada yang dimulai dengan “Sabutara”…
e. Ada yang dimulai dengan “Hong”
f. Ada yang dimulai dengan “Toron…kasih-kasih…Penghulu Balang…”, dan seterusnya:
g. Ada yang dimulai dengan “Bismilah”, dan sebagainya.

Bahasa-bahasa di dalam dengan mantra (tabas) ini umumnya dibuat bersajak, dan mempunyai nilai sastra yang tinggi. Akan tetapi bahasanya banyak yang bercampur-baur, yang terdiri dari berbabagai bahasa. Pada umumya bahasa uang dominan adalah bahasa Karo, dengan beberapa kata-kata asing, yang kadang tidak dapat di mengerti maknanya. Berdasarkan pengamatan-pengamatan di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa pada umumya mantra (tabas) itu adalah asli dalam bahasa Karo. Akan tetapi setelah memulai proses sosialisasi mendapat pengaruh dari luar, seperti memulai mantra dengan perkataan : Bismilah,hong,sabutara,dan lain sebagainya.
 
Proses dan Tata Cara Erpangir
Untuk lebih jelasnya tentang proses cara erpangir ini, di bawah ini penulis menerangkan: suatu cara erpangir untuk mengobati orang gila (mehado); yang dahulu sering dilakukan oleh: penghulu Limang. Ramuan pangir untuk mengobati orang gila adalah:

Pulungen (Ramuan) :
Lumut pitu silam 1. Lumut-lumut dari tujuh tempat keramat 2. Kelulu nipé (Kulit ular yang baru ganti kulit)
3. Besi-besi sangka sempilet (Besi-besi sangka sempilet)
4. Sebalik sumpah (Daun sebalik sumpah)
5. Bulung sebalik angin (Daun sebalik angin/daun siputar balik)
6. Bulung sarang (Daun sarang)
7. Bulung peldang (Daun peldang)
8. Bulung peldang raja (Daun peldang raja)
9. Bulung abang-abang (Daun abang-abang)
10.Bulung lulang menjera (Daun jarak)
11.Padang lalis (Padang)
Lumut pitu silam (lumut-lumut dari tujuh tempat keramat)
1.

Kalau pangir ini adalah pangir besar (agung), maka turut disertakan tujuh jenis buku-buku (ruas-ruas), masing-masing tujuh buah, dan jeruk purut (rimo mukur) empat buah. Kalau pengobatan dengan cara ini belum berhasil, maka pangirnya di tingkatkan dengan empat macam jeruk, masing-masing empat buah setiap jenisnya. Jeruk jenis apapun boleh, tetapi jeruk purut (rimo mukur) harus ada.

Kalau ini belum berhasil, maka di tingkatkan lagi menjadi tujuh jenis jeruk, masing-masing tujuh buah setiap jenisnya, akan tetapi jeruk purut tetap harus ada. Untuk pangir yang menggunakan empat buah jeruk purut saja, maka wadah pangir (penguras) di pakai mangkuk atau baskom ditanah. Atau boleh juga 2/3 bagian diletakkan di mangkuk atau baskom, sedangkan 1/3 nya ditempatkan di periuk tanah (kudin taneh). Untuk yang memakai tujuh jenis jeruk, harus memakai sagak (cucuk bambu), berjanur (erlambé), dan wajan besar sebagai wadahnya.

Untuk meramu penguras (pangir) dapat dilakukan oleh semua yang hadir. Kemudian ambil ruku-ruku (kemangi), kemenyan, dan taruh didalam kulit tanah yang diberi bara api. Kemudian ambil ayam merah dan cuci kakinya, di olesi getah pohon baja (ibajai), diminyaki cotoknya, kemudian diberi makan beras, lalu di mantrai (imangmangi), sebagai berikut:

Tabas mangmang manuk ndai (Mantra ayam)
Turun me kam Dibata diatas (Turunlah hai Tuhan yang diatas)
Nangkih Dibata ni teruh (Naik Tuhan yang dibawah)
Kundul Dibata di tengah (Duduk Tuhan yang di tengah)
Tongah turun pengulu balangku (Tengah turun pengulu balangku)
Pengulu balang di gurungku (Pengulu balang guruku)
Pengulu balang di gerek-gerekken (Pengulu balang di perasaan)
Manik merah manok pincala gunong (Ayam merah, ayam muarai gunung)
Simanjadiken manok Megara (Yang menjadikan ayam merah)
Gundari kum asap (Sekarang kami ku asap),
Kepada hupa (Kepada hupa)
Ku pul-pul, lah banci ku minaki (Kuasap, agar boleh kuminyaki)
Ku amburi beras page serongsong (Kutaburi beras padi serongsong)
Nangtangken bangsa kekesa (Membuang kesialan)
Sedang sisinku si… (anu) enda (Pasienku si… (anu) ini)
Anak beru, senina, marpuang, markalimbubu (beranak beru, bersenina, berkalimbubu)
Marsingerpak, mar singari-ngari (Bertenaga, berpenghibur)
Ku amburi kam beras meciho (Kutaburi kamu denga beras putih)
Perban perulihen siding sisin (Karena kebruntungan pasien)
Penanggerenku enda (Yang kumasuki ini (guru))
Kam maok pincala gunong (Kamu ayam murai gunung)
Simanjadiken manok Megara (Yang menjadikan ayam merah)
Man pengogen (Untuk bacaan)
Kusuroh kam ndahi Dibata (Kusuruh kamu menemui Tuhan)
Terpahe, tertuhu katandu (Terpakai dan benar-benar katamu)
Pindo simehuli mejuah-juah (Mintalah yang baik dan bahagia)
Sanggap ertuah (Berhasil dan bertuah)
Penaggaren siding sisinku (Diri dari pasienku)
aku Guru (kau Guru)
Anak aja-ajaren, tuturen (Anak yang masih belajar, aturan)
Medem kam sengkirep mata (Tidurlah kamu sekejap mata)
Sipecah pinang she kami tu Dibata (Yang memecah pinang sampailah kamu kepada Tuhan  )
Kari kam kusungkuni (Nanti kamu kutanyai)
Gelar takalndu sipunggung-punggung (nama kepalamu sipunggung-punggung)
Jadiken metunggung bas (kami jadilah serasi pada diri kami)
Gelar tubinku kalak kati pejabat (Nama cocormu kalak kati pejabat)
Njabat simehuli kami karina (Mengerjakan yang baik kami semua)
Gelar dilahndu timbangen di emas (Nama lidahmu timbangan emas)
Kam sumarmataken deraham Toba (Kamu yang bermatakan geraham Toba)
Markerahongken lada tungar (Berleherkan lada terkupas)
Mercupingken unap-unap (Bertelingakan pelepah)
Sumarbring bungken jujong bukit (Yang berjambulkan jujong bukit)
Marbuken di lautan (Yang berambutkan lautan)
Margurong-gurongken urok puntong (Yang berpunggungkan bukit terputus)
Merimbulkan buli-buli semahommat (Berbuntatkan buli-buli yang baik)
Matken cilaka jahat, cilaka jati (Kalahkan celaka jahat, celaka murni)
Matken jin, er antu, hantu teras (Kalahkan jin, hantu, hantu teras)
Hantu batu, hantu laut, hantu taneh, (Hantu batu, hantu laut, hantu tanah)
hantu di langit (hantu langit)
Kam simarlentenken batu manok (Kamu yang berlntenkan batu ayam)
Merberuruken punjutan di omas (Brkantong nasikan timpusan emas)
Panjuti me omas (Timpuslah emas)
Berenken man sidang sisinku (Berikan pada pasienku)
Bereken bangku, ras kami guru (berikan kepadaku dan kami guru)
Kam simar buku-bukuken sanggar laki (kamu yang beruaskan pimping jantan’)
Sanggar beru (Pimping betina)
Pitu dangkahna, pitu dingkihna (Tujuh ruasnya, tujuh batangnya)
Sada pe la mbera lapuk-lapuken (Satupun mudah-mudahan tidak busuk)
Puang kalimbubu (Puang kalimbubu)
Ena ras kami guru (Bersama kami guru)
Mupus anak dilaki, anak diberu (melahirkan putra dan putri)
Pitu agina pitu kakana (Tujuh adiknya tujuh kakakya)
Sada pe la me batuk-batuken (Satupun mudah-mudahan tidak batuk-batuk)
Kam simarpahaken tenembu tonggal (Kamu yang berpahakan tenembu tunggal)
Martbiteskan tonggal penalun na jati (Yang berbetiskan tonggal penalun)
Marjari-jariken embang si lima-lima (Yang berjarikan jurang yang lima)
Mersilu-siluken piso pernabong (Yang berkukukan pisau penabong)
Markabengken tali kitas di langit (Bersayanpkan kipas langit)
Kipas imbang lawan sisin kami (Hancurkan lawan pasien kami)
Kipasken sirate cian ngenen kami guru (hancurkan yang membenci kami guru)
Kipas so ada mehuli (Hancurkan yang tidak baik)

Pada waktu itu mengucapkan kata-kata yang terakhir ini guru menghentakkan kakinya kuat-kuat, lalu duduk. Kemudian guru di beri sirih (ikapuri belo). Kemudian guru bermantra lagi di tempat ayam, sebagai berikut: selanjutnya klik

oleh : Novrasilofa. S, Herliyana .R.dan Irma Yuliana.

tugas mata kuliah Manajemen Warisan Budaya pada semester IV

JURUSAN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO,
SEMARANG 2010

Arsip Lainnya yang berhubungan dengan Ritual Erpangir Ku Lau :

ERPANGIR KU LAU
Mandi Ritual Pada Masyarakat Karo

oleh : Julianus P Limbeng
Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI

This is an ancient cultural practice that has become a sacred activity for the Karo people. Erpangir Ku Lau is a bathing ceremony in the rivet and there is also a ritual of giving offerings so that the Almighty God will bless them. It is still carried out in some places for wedding ceremonies, naming ceremonies, and ceremonies for preventing evil diseases.

Seorang ibu separuh baya memegang mangkuk berwarna putih. Dengan ikat kepala kain yang berwarna putih dia menggerak-gerakkan badannya seiring dengan irama musik gendang telu sedalanen[1] atau gendang kulcapi yang terbuat dari bahan bambu dan kayu. Sesekali dia menyibakkan rambutnya yang terurai panjang yang mulai lusuh, sesekali dia juga menyibakkan kain putih sebagai ikat kepalanya yang terurai mengikuti gerek-gerak langkahnya, bagai menari. Pandangannya jauh, seakan-akan tak mempedulikan orang-orang yang ada disekitarnya. Tatapan matanya tajam. Kelihatannya dia sangat menikmati sekali alunan musik yang dimainkan oleh sierjabaten.[2] Dia berusaha mengkonsentrasikan diri dengan mimik muka yang sangat serius sekali. Sesekali dia melompat-lompat kecil dan melakukan gerakan tangan meliuk-liuk dan pandangannya ke langit. Demikian juga dengan para pemusik memperhatikan gerakan-gerakan wanita tersebut.

Musik itu diawali dengan tempo perlahan-lahan sekali. Kemudian mereka memainkan lagu mari-mari, yang artinya “kemari”. Lagu ini biasa dimainkan untuk memanggl roh-roh yang ada di sekitar tempat tersebut. Lagu ini juga dimainkan untuk memanggil roh moyang mereka agar hadir berbicara melalui medium guru yang akan kesurupan (intrance). Semakin lama semakin cepat. Yaitu lagu odak-odak beralih ke patam-patam dan selanjutnya musik dengan tempo yang sangat cepat sekali, yaitu gendang guru atau disebut juga dengan silengguri. Wanita tua itu pun bertambah semangat. Petikan kulcapi (alat musik berdawai dua) pun semakin lama semakin cepat, sehingga melodi yang dimainkan ada kecenderungan monoton dan konstan, namun temponya semakin cepat. Demikian juga dengan pemain keteng-keteng (alat musik perkusi dari bambu) dimainkan dengan penuh semangat dan diikuti oleh pukulan mangkuk mbentar sebagai pembawa tempo.



Suatu Hari Cukera Dudu di Lau Debuk-debuk
oleh Ita Apulina tarigan

Mata air panas Lau Debuk-debuk di Desa Daulu (Kab. Karo) cukup dikenal oleh orang-orang Karo sebagai sebuah daerah wisata yang unik. Di sana ada beberapa mata air panas yang mengalirkan air bercampur belerang ke sebuah kolam atau tepatnya danau kecil. Orang-orang bisa mandi air panas di sana.

Mata air panas Lau Debuk-debuk di Desa Daulu (Kab. Karo) cukup dikenal oleh orang-orang Karo sebagai sebuah daerah wisata yang unik. Di sana ada beberapa mata air panas yang mengalirkan air bercampur belerang ke sebuah kolam atau tepatnya danau kecil. Orang-orang bisa mandi air panas di sana.

Sebagian besar orang Karo pernah mendengar Lau Debuk-debuk sebagai tempat keramat. Konon, di sana menetap kedua putri Guru Penawar yang mati terserang cacar (remé). Sebagian orang menyebut mereka Beru Karo Sada Nioga, sebagian lain menyebutnya Tandang Riah Tandang Suasa. Meskipun ayah mereka (Guru Penawar) memiliki serbuk (pupuk) yang dapat menghidupkan kembali orang mati, Beru Kertah Ernala (Keramat Gunung Sibayak) keburu mencuri tulang-belulang mereka sebelum Guru Penawar tiba dari Taneh Alas. Begitulah awalnya, menurut cerita itu, Lau Debuk-debuk menjadi tempat pemandian kedua putri Guru Penawar yang, sebenarnya, bermerga Perangin-angin Kacinambun.

Namun, agaknya tak begitu banyak yang tahu bahwa setiap hari Cukera Dudu (disebut juga Cukera Ku Lau) selalu ada yang mengadakan upacara erpangir di Lau Debuk-debuk. Cukera Dudu adalah nama hari ke-13 setiap bulannya dalam kalender Karo yang sebulannya terdiri dari 30 hari.

Cukera Dudu Desember 2005
Untuk Desember 2005, Cukera Dudu jatuh pada hari Rabu tanggal 14. Mengunjungi Lau Debuk-debuk pada 14 Desember 2005 yl. ternyata memberi kesan berbeda terhadap Lau Debuk-debuk yang kita kenal di hari Minggu, saat banyak wisatawan dari Medan mandi di sana. Tak ada wisatawan kecuali beberapa keluarga yang sengaja datang ke sana untuk melakasanakanupacara erpangir ku lau.

Ada 4 mata air panas di luar kolam utama: 1. Telaga Beru Karo Sada Nioga, 2. Telaga Beru Sembiring, 3. Telaga Panglima dan 4. Telaga Guru Penawar. Setiap mata air sudah dipugar atas swadaya dari pengunjung yang merasa mendapat berkah dari Nini keramat mata air tersebut. Keluarga yang hendak erpangir terlebih dahulu mengadakan ercibal dan erlebuh di salah satu mata air ini.

Orang-orang yang erpangir biasanya datang dalam rombongan yang terdiri dari anggota keluarga. Ada yang datang karena memang disarankan oleh guru (dukun Karo) atau datang erpangir karena kebutuhan rutin dirinya sendiri. Para guru perjinujung, misalnya, paling tidak setahun sekali harus mengadakan erpangir ku lau.

Kelompok yang datang ke sana berasal dari mana saja. Pada Rabu 14 Desember 2005 itu, ada yang datang dari Binjai, Bahorok dan Karo Gugung. Tak jarang mereka berangkat jam 2 pagi dari kampung agar bisa tiba pagi-pagi sekali. Bahkan sehari sebelum Cukera Dudu tiba, mereka sudah sibuk mempersiapkan sesajen, memasak bekal dan membeli kebutuhan erpangir.

Urutan Acara
Sebelum erpangir dimulai, biasanya di pinggir telaga disusun berbagai macam sesajen. Bermacam penganan ada di sini, seperti pisang, cimpa, jeruk, buah pir, apel dan banyak lagi disajikan dengan rapi dan biasanya dialasi dengan tikar atau uis dagangen. Ada dua hal yang tidak pernah ketinggalan, yaitu daun sirih dan rokok yang dijepit di ranting kayu yang dipacakkan.

No comments:

Post a Comment