20 November 2010

Masih di Laci Gubernur

29 Desember 1979
Musim dingin di RRC dan Taiwan seperti sekarang ini, biasanya oleh petani sayur di Tanah Karo, Sumatera Utara, dijuluki sebagai "musim madu". Harga kubis (kol) menggairahkan mereka. Permintaan pun banyak mengalir masuk dari Singapura atau Penang. Karena sayur dari RRC dan Taiwan, dua negara saingan utama sayur Indonesia tak banyak memasuki pasaran Singapura.

Tapi saat ini kenyataannya berlainan. "Harga kol hanya Rp 20 sekilo," keluh Perjeki Ginting, 50 tahun, petani kol dari desa Lingga, Kabupaten Tanah Karo. Sore itu, Ginting sedang mendorong gerobak penuh berisi sayur-mayur ke halte kolt, sambil berhenti untuk mengatur nafas ia melanjutkan: "Harga itu hanya pas-pasan untuk makan. Tapi kalau tak dijual sayur kami bisa busuk," ujarnya.

Padahal di Singapura pasaran kol minggu lalu mencapai S$ 18 per pikul (1 pikul = 60,5 kg) atau jika dikurs sekitar Rp 85,10/kg. Nasib petani sayur di Kabupaten Tanah Karo ini memang lemah. Lebih mending nasib para eksportir. Mereka tak punya risiko merugi meskipun sayurnya busuk.

Tergilas
"Memang kami pakai modal Singapura," ujar Koran Karo-karo, 50, salah satu dari 14 eksportir sayur dengan terus terang. Dengan begitu eksportir tak punya risiko, dan "itu lebih enak," ujar Karo-karo yang menjabat Ketua Gabungan Eksportir Sayur Sumut. Namun sebenarnya posisi mereka tak lebih dari orang gajian, mengumpul sayur lalu mengirimkannya kepada taukenya di Singapura atau Penang (Malaysia Barat). Kemudian tinggal terima pembagian keuntungan, dan beres.

Kondisi ini mengakibatkan Koran Karokaro dkk tak mungkin menerima keuntungan besar sebagaimana mungkin dapat diraih oleh eksportir sungguhan. Tapi untuk menjadi eksportir sungguhan mereka rasakan risikonya terlalu besar. "Pasar dikuasai mutlak oleh para pedagang Singapura," katanya.


Ini dibenarkan oleh Deradjat Hasibuan, anggota DPRD yang juga Ketua Dewan Koperasi Sum-Ut. Menurut Hasibuan, kerjasama antara pedagang Singapura dengan eksportir sayur di Medan "bagaikan mata rantai baja" yang sulit dihapus. Eksportir yang tak bergabung dengan tauke Singapura akan tergilas. Usaha pemasaran sendiri pernah dicoba oleh seorang eksportir tahun lalu. Tapi ia tak mampu menembus rantai baja itu. Akibatnya, sayur-mayur itu bukan saja tidak laku dan busuk, malah terpaksa dibawa kembali ke Medan.

Hasibuan keberatan menyebut nama pedagang sayur Medan yang tergilas itu. Tapi menurut cerita anggota DPRD Medan itu, akibatnya pengusaha lain jera mengekspor sendiri. Kendati demikian, Deradjat Hasihuan tidak putus asa. Apalagi setelah NTUC (National Trade Union Cooperative) Singapura, semacam koperasi di sini, bersedia menampung 4000 ton sayur, terutama kol Indonesia (baca Sum-Ut) setiap bulan. Sayur ini akan disalurkan kepada 13 super market anggotanya. Syaratnya, selain harus dimasukkan dalam peti kemas harus diangkut pula dengan kapal yang memiliki kamar pendingin agar sayur tetap segar sampai kepada konsumen. Dengan koperasi sayur yang anggotanya terdiri dari para petani, Hasibuan mengharapkan akan dapat menembus pasar sekaligus menyaingi sindikat eksportir.

"Suatu ide yang bagus tapi sulit dilaksanakan," komentar kalangan eksportir. Alasannya sampai kini Indonesia belum memiliki kapal khusus untuk mengangkut sayur. Lagipula dermaga peti kemas baru ada di Tanjung Priok. Ekspor sayur mayur dari Sum-Ut sekitar 20.000 ton setahun. Di antaranya 60% terdiri dari kol. Sisanya berupa kentang, bawang merah dan tomat.

Ketika EWP Tambunan mulai menduduki kursi Gubernur Sumatera Utara, 19 bulan lalu, ia pernah mengatakan akan menjalankan program terpadu di bidang sayur. Yaitu dengan mengikut sertakan semua instansi yang terlibat untuk menggalakkan ekspor sayur ini, termasuk akan menyediakan 3 buah kapal pengangkut sayur masing-masing berbobot 300 DWT dilengkapi dengan alat pendingin. Tapi sampai sekarang tampaknya rencana itu masih tersimpan dalam laci Gubernur.

No comments:

Post a Comment