Skip to main content

Wanita karo (3)

Een groep vrouwen van Karo-Batak afkomst in lokale kleding met
bijbehorende hoofddoeken en oorijzers (padoengs), Noord-Sumatra
Date 1919
Source Tropenmuseum

Karo Batak woman
Date 1910-1925
Source Tropenmuseum

Een groep Karo Batak vrouwen
Date ca. 1870
Source Tropenmuseum
Author K. Feilberg (Fotograaf/photographer).

Een Karo-Batak familie op de toeré, de galerij die rond het huis loopt, Noord-Sumatra
Date 1914-1919
Source Tropenmuseum
Author T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer).

Een Karo-Batak familie op de toeré de galerij die rond het huis loopt Noord-Sumatra
Date 1914-1919
Source Tropenmuseum
Author T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer).

Deze vrouwen dragen allemaal een effen zwarte "kelamkelam" textiel als hoofddoek en als omslagdoek. De doeken om het lijf gewikkeld bestaan waarschijnlijk uit twee aan elkaar genaaide "kelamkelam" doeken, en heet "sambat". Twee van de vrouwen dragen een "kelamkelam" als omslagdoek. Als hij met plangi versierd is, heet de omslagdoek "batu jala". De "kelamkelam" en "batu jala" worden van ingevoerd machinaal katoen gemaakt dat lokaal door de Karo wordt geverfd. Twee van de vrouwen dragen een "baju" of jac over het bovenlijf, even zo van machinaal katoen gemaakt.. Vier jonge vrouwen van Karo-Batak afkomst,
Noord-Sumatra
Date 1914-1919
Source Tropenmuseum
Author T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer).

Een groep vrouwen van Karo-Batak afkomst in de Karo-Bataklanden, Noord-Sumatra
Date 1914-1919
Source Tropenmuseum
Author T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer).

Portrait of three Karo Batak women
Date 1890-1894
Source Tropenmuseum
Author Stafhell & Kleingrothe (Fotostudio). niet bekend / unknown (Fotograaf/photographer).

Deze jonge vrouwen dragen allemaal een "sambat" om het lijf gewikkeld. De "sambat" bestaat uit twee aan elkaar genaaide "kelamkelam" doeken. De naden zijn duidelijk op deze foto te zien. Eén daarvan (links op de foto) is al met indigo geverf, en één daarvan (rechts op de foto) is nog van wit katoen. Het was gebruikelijk voor de Karo te wachten tot de doek vuil was alvorens het in een indigobad te dompelen. Twee van de vrouwen dragen een "baju" of jac over het bovenlijf, even zo van machinaal katoen gemaakt.. Drie meisjes van Karo-Batak afkomst voor de ingang van een huis, Noord-Sumatra
Date 1914-1919
Source Tropenmuseum
Author T. (Tassilo) Adam (Fotograaf/photographer).

Comments

Popular posts from this blog

Nasehat-Nasehat dan Ungkapan-Ungkapan

Nasehat-Nasehat Orang tua Karo, termasuk orang tua yang suka memberikan nasehat-nasehat kepada anggota keluarganya. Dalam nasehat yang diberikan selalu ditekankan, agar menyayangi orang tua, kakak/abang atau adik, harus berlaku adil. Menghormati kalimbubu, anakberu, senina sembuyak, serta tetap menjaga keutuhan keluarga.   Beberapa nasehat-nasehat orang-orang tua Karo lama, yang diungkapkan melalui ungkapan-ungkapan antara lain: Ula belasken kata la tuhu, kata tengteng banci turiken . Artinya jangan ucapkan kata benar, tetapi lebih baik mengucapkan kata yang tepat/pas. Ula kekurangen kalak enca sipandangi, kekurangenta lebe pepayo , artinya jangan selalu melihat kekurangan orang lain, tetapi lebih baik melihat kekurangan  kita (diri) sendiri atau  Madin me kita nggeluh, bagi surat ukat, rendi enta, gelah ula rubat ,  artinya lebih baik kita hidup seperti prinsip  surat ukat (surat sendok), saling memberi dan memintalah agar jangan sampai berkelahi. Beliden untungna si apul-apulen

Kumpulan Teks dan Terjemahan Lagu-lagu Karya Djaga Depari (bagian 2)

8. Mari Kena Mari turang geget ate mari kena Sikel kal aku o turang kita ngerana Aloi, aloi kal aku Kena kal nge pinta-pintangku Mari turang iah mari kena Mari turang iah mari kena Tebing kal kapen o turang ingandu ena Nipe karina i jena ringan i jena Tadingken kal ingandu ena Mari ras kal kita jenda Mari turang iah mari kena Mari turang iah mari kena Tertima-tima kal kami kerina gundari Kalimbubu, anak beru ras seninanta merari Mulih kal gelah kena keleng ate Ras kal kita jenda morah ate Ula lebe meja dage Mari turang iah mari kena Mari turang iah mari kena (sumber : Henry Guntur Tarigan, Piso Surit tahun 1990 halaman : 132) Mari Kena (Marilah mari) Mari adinda sayang marilah mari Ingin daku kita berbicara Dengar, dengarkanlah daku Dikaulah yang sangat kurindukan Mari, marilah sayang Mari, marilah sayang Sangat terjal jalan ke rumahmu sayang Ada banyak ular pula di situ Tinggalkanlah rumahmu itu Mari kita bersama di si

Perempuan Karo dan Kedua Anaknya dalam "Indonesia Early Postcards"

Kartu Pos bergambar Perempuan Karo dan Kedua Anaknya diperkirakan difoto tahun 1890-1899. Dimuat di halaman 29 dalam buku  Indonesia 500 Early Postcards yang disusun oleh Haks, L., S. Wachlin diterbitkan di Singapore tahun 2004. Foto ini dibuat oleh C.J. Kleingrothe J.B. Obernetter. Sumber : Tropenmuseum Uniknya buku Indonesia 500 Early Postcards ini bersampul foto perempuan Karo. Perempuan Karo ini memakai pakaian khas perempuan Karo lengkap dengan tudung dan padung-padung tempo dulu. Di atas tudung perempuan Karo itu diletakkan “Sumpit Nakan”. Di antara foto-foto semasa kolonial Belanda berkuasa di Indonesia yang dirangkum dalam buku ini, keanggunan perempuan Karo tempo dulu adalah menjadi daya tarik tersendiri begitu juga kearifan lokal budayanya. Foto perempuan ini dianggap pilihan terbaik dari antara 500 gambar kartu pos seluruh Indonesia yang dikeluarkan pada zaman kolonial. Di dalamnya juga terdapat rumah Sibayak Lingga di Kabanjahe. Istana Raja Kar